Website Wapannuri

PERJUANGAN MENCAPAI HIDUP KUDUS ATAU KEKUDUSAN

Setiap minggu umat kristiani (termasuk saya) pergi ke gereja untuk beribadah kepada Tuhan. Sebulan sekali, pendeta di atas mimbar menyerukan supaya umat Tuhan hidup kudus dihadapanNya. Setahun sekali, setiap bulan desember kita merayakan kelahiran Allah Maha Kudus dan pada saat inilah absensi kehadiran di gereja mencapai puncaknya. Tuhan mau mati untuk kita, karena itu hiduplah untuk Tuhan, hidup kudus supaya berkenan di hadapanNya. KUDUS lagi…Kudus lagi…padahal mereka tahu bahwa tidak mungkin ada manusia yang bisa mencapai kekudusan ini. Mereka tau bahwa perjuangan mencapai hidup kudus adalah sesuatu yang tidak mungkin. Namun kenapa para pendeta itu tetap menyerukannya ? Mereka tahu bahwa kekudusan itu adalah anugerah Tuhan, bukan hasil usaha manusia…namun kenapa mereka mengatakan bahwa kita harus berusaha untuk mencapai kekudusan yang sempurna ?

Perjuangan mencapai Kekudusan

Ketika saya memutusakan untuk menulis mengenai hidup kudus ini, ada dua topik yang akan saya bahas. Pertama, arti kekudusan itu sendiri. Ini penting karena banyak sekali orang yang salah tafsir mengenai hidup kudus. Dipikir hidup kudus itu tidak melihat film bokep, tidak mengucapkan kata-kata jorok, tidak membunuh, tidak berzinah, tidak masturbasi, tidak menipu, dan tidak-tidak lainnya. Arti hidup kudus jauh dari yang anda pikirkan ataupun dapat anda bayangkan. Dari sini anda akan mengerti maksud saya bahwa perjuangan anda mencapai hidup kudus adalah mustahil dan sia-sia. Kedua, kita akan belajar dari kehidupan orang lain yang pernah mencoba untuk hidup kudus yang sempurna. Adakah orang seperti itu ? Banyak yang mencobanya, dan tidak pernah ada yang berhasil. Bahkan orang farisipun dikutuk oleh Tuhan atas kemunafikannya. By The Way, siapakah orang Farisi itu ? He…he…he… kalo sempet kita bahas yaa….

ARTI KEKUDUSAN
Hidup kudus atau kekudusan mudah diucapkan namun mustahil dilakukan. Itulah salah satu alasan kedatangan Tuhan Yesus di dunia ini, yaitu untuk mewakili manusia menghadap Allah. Nek memang kita mampu untuk mencapai kekudusan, Tuhan gak bakalan mati di kayu salib…he…he…he…lapo soro-soro (bahasa jawa artinya : ngapain susah-susah!) Dengan Tuhan Yesus di depan kita dan kita di belakangNya, maka Dia bertindak sebagai atasan kita yang baik, membela kita, dan menerima segala kesalahan yang kita lakukan. Pernah punya atasan yang baik nggak ? Atasan yang membela kepentingan kita dan yang adil ? Berbahagialah mereka yang menjadi bawahannya ! Ketika kita salah, dia akan maju mewakili kita menghadap bos dan akan menerima kesalahan kita sebagai kesalahannya. Hukuman kita sebagai hukumannya. Dia tahu kalo gaji bawahan itu kecil…makanya dia minta supaya yang dipotong itu gajinya sendiri sebagai kompensasi kesalahan yang dilakukan anak buahnya. Dia juga minta kesempatan kedua untuk children fruitnya (children = anak ; fruit = buah) Makanya…saya bilang berbahagialah temen-temen yang punya atasan kayak gitu ! Ngomong – ngomong…kira-kira ada nggak yang pernah punya atasan kayak gitu ? Ha…ha…ha… hari gini ? Ngomong sing lain aja pak Wapan ! Mana ada orang baik kayak gitu ?

Nah, itulah Yesus yang kita kenal ! Dia tahu bahwa standar Allah adalah standar yang tinggi. Seorang manusia biasa tidak akan pernah mampu mencapai standar yang ditetapkan Allah untuk hidup kudus. Hidup yang berkenan di hadapanNya ! Sedemikan kudus Allah orang Kristen sehingga manusia yang melihat wajahNya akan langsung meninggal dunia. Atau sebaliknya, sedemikian berdosa kita sehingga tidak pernah bisa berhadapan muka dengan Allah…judulnya saja Allah Maha Kudus. Kembali ke topik semula, apa arti hidup kudus itu ?
Kudus dalam bahasa indonesia artinya adalah suci atau murni. Definisi kudus menurut yang pernah Wapannuri dengar adalah dipisahkan, disendirikan, dan dikhususkan. Sedangkan arti kata kudus (dari bahasa ibrani qadosy dan bahasa yunani hagios) adalah terpisahkan, dikhususkan atau terpotong dari, digunakan terhadapa keadan terpisahnya suatu benda atau seseorang agar Tuhan dapat memakainya. Jadi arti kata yang mana yang akan kita pakai untuk mendefinisikan kata “Kudus” ini ? Saya lebih suka memakai istilah “terpisahkan”. 

Sampai pada tahap ini kita sudah mengerti arti kata kudus. Tetapi kemudian timbul pertanyaan, mengapa kita harus hidup kudus ? Apakah supaya hidup kita, keberadaan atau eksistensi kita dipakai Allah ? Bukankah Allah itu maha kuasa, ngapain memakai kita ? Kan tinggal ngomong lalu jadilah apa yang diomongkanNya ! Allah kan pencipta, gak perlu pake kita toh Dia bisa membuat apa yang tidak ada menjadi ada dalam sekejap mata ? Menurut saya, kita kudus pun tidak ada gunanya bagi Allah. Dia tidak memerlukan kita, jadi mengapa kita diciptakan ? Ha…ha…ha…mbulet dong ! Iya..iya…wes gak usah ngomong ini yaa. Pusing sing nulis !

Pendeknya, hidup kudus adalah hidup berkenan di hadapan Allah. Jadi, yang menilai adalah Allah sendiri. Hei ! Sini…Wapan ! Kamu gak kudus. You, Acoy…kurang titik lagi kamu dapat penghargaan orang kudus tahun ini. Bejo…jauh sekali dari standar perusahaan Allah, ayo berusaha lagi. Gitu kata supervisor kerajaan Allah. Nah, seperti apakah standar kekudusan itu menurut Alkitab ?

Karena saya bukan lulusan sekolah Teologia, maka saya ambil perkataan Tuhan Yesus saja di Matius pasal 5 – pasal 7. Perikopnya tentang Khotbah di Bukit. Ini sebagian kecil dari standar hidup kudus Allah, mari kita simak apakah kita bisa melakukannya ?

  1. Setiap orang yang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum.
  2. Setiap orang yang berkata kepada saudaranya,”Kafir!” Harus dihadapkan ke Mahkama Agama.
  3. Siapa yang berkata, “Jahil” harus diserahkan kepada neraka yang menyala-nyala
  4. Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya sudah berzinah.
  5. Jika matamu menyesatkan, maka cungkillah matamu itu.
  6. Jika tanganmu menyesatkan, penggalah dan buanglah tanganmu
  7. Setiap orang yang menceraikan istrinya, ia telah menjadikan istirnya berzinah
  8. Setiap orang yang kawin dengan perempuan yang diceraikan ia telah bezinah.
  9. Janganlah melawan orang yang berbuat jahat kepadamu
  10. Berikan pipi kirimu jika orang menampar pipi kananmu
  11. Jika orang menginginkan bajumu serahkan juga jubahmu
  12. Jika orang memaksamu berjalan 1 mil, berjalanlah dengannya 2 mil
  13. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu
  14. Jangan menolak orang yang mau meminjam kepadamu
  15. Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu
  16. dst…silahkan baca sendiri !

Nah, Yesus ini juga ngomong, “Karena itu harulah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.” Inilah standar yang diinginkan oleh bos kita, Allah semesta alam. Standar yang tinggi, dan mustahil untuk dilakukan.

Standar nomer 13 berkata kalo kita harus memberi kepada orang yang meminta kepada kita. Misalnya nih….tanggal 1, setelah kita menerima amplop dari tempat kerja kita. Si Budi bilang, “Bro, anakku lagi sakit, kartu kredit udah over limit semua. Aku minta duit dong !” Apa yang akan kita lakukan ? Mau hidup kudus atau hidup berkenan di hadapan Allah ? Supaya bisa masuk surga, kita harus melaksanakan standar Allah dong ! Padahal ini gaji juga bakalan habis sekalipun gak diminta si Budi. Kan buat belanja bulanan, buat kasih orang tua, dan juga buat bayar listrik, bayar air, beli bensin, beli sabun, shampo, beras, kopi, dan cicilan lainnya. Kamu harus sempurna, seperti Bapamu di surga yang sempurna….kata Yesus ! Bolehkah kita mengabaikan perintah ini dengan alasan kita juga butuh duit ini bro…

Anda boleh bilang, bahwa kita tidak boleh mengartikan ayat Firman Tuhan secara hurufiah pak Wapan. Boleh – boleh saja, toh kata-kata ini bukan saya yang mengucapkan. Tetapi Yesus sendiri, Allah yang menjelma menjadi manusia, Allah yang mengorbankan kekekalan untuk kefanaan, Allah maha tahu, bos kita, pencipta kita. Masakah dia mengucapkan sesuatu yang salah ? Pikir sendiri ! Ngapain dia ngomong yang gak penting ? Gak kengangguren rek !

Oh iya…coba aja godain pendetamu yang khotbah mengenai kekudusan ini. Yang ngomong, “Kita harus berjuang untuk hidup kudus, dengan hidup kudus maka kita akan diberkati, dibuat kaya, hidup kudus yang sempurna, hidup kudus itu mungkin, berjuang tiap menit, tiap detik… puji Tuhan kita akan berkenan di hadapan Allah.”

Waktu dia selesai khotbah, anda bilang ke dia, “Pak berdasarkan www.wapannuri.com, dan Matius pasal 5 sampe pasal 7, Tuhan bilang kalo kita harus sempurna, seperti pak pendeta bilang kalo hidup kudus itu harus sempurna. Betul kan pak ? Nah… di Matius 5:42 berkata berilah kepadamu orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. Pak pendeta pasti orang kudus, atau paling tidak orang yang mau berjuang untuk mencapai kekudusan ! Saya mengormati dan terkesan dengan khotbah bapak yang berapi-api meminta kita untuk hidup kudus. Nah, pak bisa tolong pinjami saya uang sepuluh juta untuk kebutuhan sehari-hari saya ?”

Saya yakin pak pendeta tersebut akan berkata, “Minta kepada Tuhan yang maha kuasa, tetap beriman dan berdoa ! Tuhan akan menyediakan segala keperluanmu menurut waktunya.” Cara terbaik untuk mengalihkan topik pembicaraan bukan. Namun pada intinya, pak pendeta itu tidak memenuhi standar Allah bukan ? Atau bisa juga reaksi pak pendeta itu akan marah dan ngomong kalo kita ini mencobai Tuhan….wakakakak…. Boleh – boleh aja hamba Tuhan ngomong kayak gitu kok…kan masih manusia…sama seperti saya !

Waduh…wes kepanjangen tulisanku. Padahal belum sempet bahas lainnya….tapi gak apa-apa kan teman – teman ? Tak persingkat aja yaa…

Kekudusan

PERLUKAH KITA HIDUP KUDUS ?
Kita, manusia yang masih hidup di dunia ini selamanya tidak akan bisa hidup kudus dengan kekuatan kita sendiri. Karena itu kita 100 persen masuk neraka selama-lamanya. Sekeras – kerasnya perjuangan kita mencapai kekudusan tidak akan pernah bisa mencapai standar Allah. Jangan membodohi diri sendiri, dan jangan menghibur diri sendiri. Hidup kudus tidak mungkin bisa ! Kita akan belajar dari kisah nyata di tulisan saya berikutnya. Namun apakah tidak ada jalan lain untuk tidak masuk neraka yang menyala – nyala ? Ada dong… cari atasan yang baik, yang mau untuk menanggung kesalahan kita, yang mau menerima hukuman kita, dan yang mau bela kita di hadapan bos kita ! Nek gak ada atasan kita yang mau, ya minta tolong ama Om Yesus aja deh…..Dia pasti mau bantu kita kok, dijamin !

Nah, setelah itu apa yang akan kita lakukan ? Mencoba untuk memulai hidup baru yang lebih berkenan di hadapan Allah dengan cara mengejar kekudusan yang tak mungkin tercapai ? Boleh – boleh aja…tapi apa sebenarnya motif anda ? Supaya diberkati ? Supaya berkenan di hadapan Allah ? Supaya layak di terima Allah ? Supaya masuk surga ? Supaya bisa melayani Tuhan ? Supaya…pokok’e yang mulia gitu loh….? Boleh – boleh aja kok ! Namun itu motivasi yang salah ! Kasarannya, bodoh sekali dirimu ! Tuhan tidak perlu dilayani…ada jutaan malaikat yang siang malam melayani dan menyembah diriNya. Dengan usahamu, sekeras apapun juga tidak akan bisa masuk surga.  Dengan cara hidupmu yang munafik, dan jiwamu yang berdosa selamanya kamu tidak akan pernah bekernan dihadapan Tuhan. Dengan Yesus sebagai pimpinan yang membela dan menerima kesalahan kita sebagai kesalahannya sudah lebih dari cukup untuk bisa masuk surga.

Tuhan tahu, bahwa hanya sebuah cinta, kasih, kesabaran, pengorbanan, dan ketulusanlah yang bisa merubah hati manusia. Coba pikirkan lagi, jika anda mempunyai seorang atasan yang membela kita dihadapan bos kita, jika anda mempunyai seorang atasan yang mau menerima hukuman yang seharusnya dijatuhkan kepada kita, apa yang akan anda perbuat untuknya ? Sekalipun anda mengulangi kesalahan yang sama, atasan anda siap untuk menerima hukuman itu ! Tegakah anda membalas air susu dengan air tuba ? Saya rasa, tidak ada manusia yang sanggup melakukan hal itu ! Seribu kali anda bersalah…seribu kali juga atasan anda membela anda….sanggupkah anda mengabaikan atasan anda ? Sekeras – kerasnya hati anda pasti akan luluh juga melihat pengorbanan atasan anda ! Inilah kekuatan kasih, pengorbanan, ketulusan dan tidak mementingkan diri sendiri.

Seharusnya, inilah yang menjadi alasan, motif, atau motivasi anda untuk mengejar hidup kudus itu. Balas kasih dari pengorbanan dan ketulusan atasan anda tersebut ! Atasan anda tidak mengharapkan balasan anda karena itulah tugasnya sebagai seorang atasan. Namun atasan anda akan menangis senang melihat perubahan hidup anda dan berkata, “Mari… masih ada pekerjaan – pekerjaan besar yang menanti kita ! Saya butuh kamu, karena pekerjaan ini terlalu besar untukKu !”

Mujijat tidak pernah merubah hati seseorang, Alkitab tidak pernah membuat orang bertobat, hanya kasih yang tidak mementingkan diri sendiri, ketulusan, pengampunan dan pengorbanan yang meluluhkan hati keras manusia. Hidup kudus adalah satu-satunya cara dimana kasih Allah bisa terpancar terang. Dan dengan kasih semua bisa dilakukan ! Gak percaya ? Cobalah baca biografi Martin Luther King, Ibu Theresa, atau Kitab suci anda ! Apa jawaban Yesus ketika Dia ditanya hukum yang paling penting ? 

JawabNya, “Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.“

Ketika kita bertanya kepada bos kita, kriteria apa yang penting supaya saya bisa naik gaji ? Tentunya kita akan siap dengan kertas dan pensil bukan ? Catat baik – baik kesimpulan diatas tadi dalam pembahasan kita mengenai perjuangan mencapai hidup kudus ini.

Mencari Kehendak Tuhan !
Apa kehendak Tuhan untuk hidup kita ? Sudahkah anda mengenalinya ?

Share this content

ARTIKEL TERBARU

KEPRIBADIAN MANUSIA

ARTIKEL KARAKTER