Analisa Saham Lo Kheng Hong (2-2) Seri INVESTASI Saham

Saya bisa tahu portofolio Lo Kheng Hong berdasarkan data insider dari stockbit. Dari sana saya bisa mengikuti langkah beli dan jual. Ketika Pak Lo membeli saham yang terdaftar, maka akan muncul data pembeliannya, tanggal dan jumlah lot. Demikian juga ketika pak Lo menjualnya. Sebagai investor pemula, saya analisa sebelum memutuskan membeli. Jadi saya bisa tahu kapan dan beli di harga berapa. Lalu saya bandingkan dengan harga sekarang. Jika harganya sama atau selisih sedikit, maka saya akan beli lagi. Tulisan ini berisi perjalanan saya investasi saham mulai Desember 2022 sampai April 2024.

Analisa saham-saham milik Lo Kheng Hong

Saham BMTR (Global Mediacom)

Pak Lo Kheng Hong beli saham Right Issue, kemungkinan besar langsung nego sama Pak Hary Tanoe. Data di Stockbit tanggal 13 Agustus 2020 dengan harga Rp 249 - 270 per lembar saham. Jumlahnya 942.184.700, sebanyak 6,14%. Kalau dirupiahkan menjadi Rp 234.603.990.330 alias 234 milyar.

Sampai saat ini, per 6 Mei 2024, belum ada yang dijual. Malah nambah. Kepemilikannya sekarang menjadi 1.067.633.500 (6.30%).

Kebanyakan akumulasi sahamnya terjadi pada Januari 2021 sampai Desember 2021.

  • Tahun 2022 hanya nambah sebanyak 3 kali. Bulan Mei sekali dan Desember dua kali.
  • Tahun 2023 nyicil 8 kali, pada bulan Maret, April dan Mei.
  • Tahun 2024, sampai tulisan ini dibuat, tidak ada pembelian.

Pak Lo invest di BMTR sudah 4 tahun. Dan berdasarkan harga saham hari ini, nilainya gak kemana-mana. Kurang lebih sama dengan harga beli. Apa yang terjadi ? Salah investasi ? Bisa jadi. Bagaimanapun juga, Pak Lo juga manusia. Dan Pak HT juga terkenal di dunia ini sebagai tukang goreng. Apakah Pak Lo juga salah satu korban ?

Kabar buruknya….kalo pak Lo jadi korban, saya jadi ikutan dong. ^-^’. Mana harga rata-rata saya di Rp 280an. Pak Lo masih minus dikit, saya wes minus 15% an. Kalo pak Lo jual, saya juga ikut jual (Semoga aja gak dijual).

Analisa teknikal saham BMTR

Apakah ini akibat ngikut saham orang lain ? Bisa jadi. Tapi menurut saya, sudah ikut orang yang benar. Yang reputasinya teruji. Udah 30 tahun investasi di pasar modal indonesia. Kalaupun ternyata kasus ini termasuk pompom, saya rela. Namanya saja belajar, tentu ada resikonya. Dan saya merasa tidak belajar membabi buta. Saya pilih orang yang tepat pada waktu yang tepat.

Bisa juga pak Lo salah menilai orang. Bukankah semua orang pernah salah mempercayai orang. Dan biasanya yang menipu kita adalah orang terdekat kita. Tapi masa sih, orang dengan pengalaman segudang itu masih saja bisa dibodohi. Nek tak pikir-pikir…bisa juga. Tak peduli seberapa besar pengalaman kita, tetap saja yang namanya apes itu bisa terjadi sewaktu-waktu.

Saya lebih yakin kalau pak Lo tidak salah pilih saham. Memang yang terpenting bagi pak Lo adalah manajemen. Tentu saja ada hal yang diketahui pak Lo yang tidak diketahui saya dan investor lainnya. Jika saya analisa karakternya, pak Lo bukan orang yang sembarangan menaruh uangnya, dia sangat perhitungan dan gak mau rugi.

Berdasarkan analisa saya yang jelas tidak kompeten ini, BMTR adalah satu-satunya media yang paling layak investasi di Indonesia. Yang dalam jangka panjang, entah berapa puluh tahun lamanya, yang berpotensi menjadi media terbesar di Indonesia. Dan Pak Lo Kheng Hong siap menunggu cacing ini jadi naga.

Saham GJTL (Gajah Tunggal)

Hanya saham ini yang saya tahu dengan pasti barang yang dijual. Berhubungan pemula dan harga sahamnya paling mahal diantara lainnya, Saya agak ragu. Padahal seiring berjalannya waktu, saham harga 50 dan 500 sama saja, hanya beda di jumlah lot yang didapat. Keluar dananya tetap sama.

Analisa teknikal saham gajah tunggal GJTL

Diantara saham lainnya, GJTL ini yang jalan duluan. Profit saya sudah 100%. Dan seperti planning saya, jual ketika pak Lo menjual dan beli ketika pak Lo beli. Kepemilikan saya di sini tak jual separuh. Loh kok isa ? Yaa…karena saya sedikit mengerti teknikal analisis. Ketika harganya sampai Rp. 1.000, saya jual separuh. Dan beli lagi di sekitar harga Rp 600an.

Sama seperti orang pada umumnya, ketika udah profit 100%, tangan jadi gatel. Jual…tidak…jual…tidak ? Kalo turun lagi gimana ? Dan saya memutuskan untuk jual sebagian untuk nantinya beli lagi ketika di bawah. Harga kan naik turun. Gak mungkin naik terus. Dunia saham ini adalah dunia penyesalan. Nyesel karena gak jual, nyesel karena gak beli lebih banyak. Seakan-akan kita tahu pergerakan harganya. Padahal faktanya, tidak ada seorang pun yang tahu harga mau bergerak kemana. Bahkan Warren Buffet pun menekankan bahwa dia tidak akan membuat prediksi masa depan.

Darimana Warren Buffet tahu bahwa saham yang dibelinya akan naik ? Dari analisa fundamental. Berdasarkan sepak terjang perusahaannya. Warren tidak pernah melihat harga saham, gak pernah analisa grafik. Tapi anehnya, perhitungan fundamentalnya sama persis dengan analisa teknikalnya. Kok bisa ? Gak liat candlestick tapi bisa tahu harga bottomnya ?

"Bahkan, orang seperti Pak Lo Kheng Hong pun mengalami floating Loss. Karena tahu apa yang dia beli. Maka dia tetap hold.

Masalahnya, harus bersabar selama 3 tahun. "

Sama halnya dengan pak Lo Kheng Hong, dia tidak pernah melihat grafik, gak ngerti teknikal analisis, tapi timing dan harga pembeliannya hampir pas dengan analisa teknikalnya. Kok bisa ?

Jawabannya baru saya temukan setelah membaca buku “How I made $1.200.000 in the stock market” yang diterbitkan pada tahun 1960. Nicholas Darvas adalah seorang penari yang kebetulan mengenal saham ketika salah satu kliennya membayar menggunakan saham. Dan dalam waktu beberapa bulan, harganya naik 100%. Buku ini menarik karena berisi tentang pengalamannya belajar saham dari nol. Dia bercerita tentang prosesnya, gak ada teori dan gak ada kalimat mbulet. Sungguh buku yang harus dibaca oleh semua orang yang mau belajar dunia saham.

Pendeknya, setelah 6,5 tahun membaca 200 buku, mempelajari dan terjun di dunia saham. Dia menemukan strategi yang bisa merubah $200.0000 menjadi $2.000.000 dalam waktu 18 bulan. Teorinya dikenal dengan nama Darvas Box.

Secara sederhana, sistem trading Darvas Box menggunakan harga rata-rata harian. Jika dalam beberapa hari harga bergerak di kisaran $10-$15, maka Om Niko akan menempatkan buy on breakout di $16 dengan stop loss di $9. Jika kemudian harga bergerak di kisaran $16-$20. Maka dia akan akumulasi lagi dengan buy order di $21 dan stop loss di $15.

Kelihatannya semudah itu, tapi sebelumnya kita harus tahu trendnya ini bullish atau bearish. Dan ini hanya bisa didapatkan dari pengalaman. Om Darvas hanya akan trading ketika trend pasar akan bullish. Strategi Darvas Box ini gak bisa dilakukan oleh investor pemula.

Dari range harga inilah fundamentalis bisa mengetahui harga saham murah atau mahal. Sama seperti seorang teknikal analis yang melihat grafik bisa langsung tahu trend saham sedang bullish atau bearish. Karena itu saya yakin, tanpa melihat candlestick pun pak Lo tahu trend sahamnya. Dia mengingat pergerakan harga dalam pikirannya dan menggambarkan grafik imajinasi. Lagipula jaman Pak Lo, tidak ada aplikasi Stockbit dan Ajaib yang bisa melihat candlestick setiap waktu.

Saham Lo Kheng Hong 2024

Akhir April lalu, Pak Lo kembali beli saham GJTL, di kisaran harga 1.095 - 1.165. Tapi sebelumnya saya coba pahami pembelian sebelumnya :

  • 1 Desember 2023 - 919.200 lembar
  • 4 Desember 2023 - 150.000 lembar
  • 5 Desember 2023 - 4.000.0000 lembar

Kenapa beliau beli tanggal ini ? Yang pasti pak Lo Kheng Hong tidak menggunakan analisa teknikal seperti gambar disamping ini. Dia hanya menggunakan analisa fundamental. Beda dengan saya yang gak paham (masih belajar) analisa fundamental. Saya hanya mencoba memahami pemikirannya dengan apa yang saya ketahui.

Alasan beli saham GJTL

Setelah naik tajam dan koreksi (pullback) pada Juli 2023, harga tidak mampu break new low. Berarti masih up trend, belum patah.

Pertengahan Oktober 2023 ada kenaikan harga yang tajam tapi tidak disertai volume. Malahan akhir oktober ada selling pressure yang besar ditandai dengan volume tinggi, tapi harga gak bisa tembus high sebelumnya.

Kenapa pak Lo gak langsung beli ? Mungkin karena nunggu konfirmasi. Dari chart daily memang terlihat ada money spot. Saya menganalisa dengan chart Weekly. Hampir tidak pernah pake Daily.

Golden Cross dari MACD Weekly baru terjadi pada tanggal 27 November 2023. Berarti aman untuk beli.

Dari candlestick pun bagus, meskipun doji, tapi menaik. harganya tidak mampu menyentuh low minggu sebelumnya. Beberapa orang menyebutnya sebagai base.

Dari laporan keuangan Q3 juga terjadi kenaikan net income. Dari 93 Milyar menjadi 340 Milyar. Besar sekali, hampir 250%. Secara teknikal terkonfirmasi dengan didukung data fundamental yang meningkat. Mungkin ini alasan yang baik untuk buy on breakout. Bukan asal break asal beli. Tapi ada story di balik berak out.

Harga saham bisa naik karena ada permintaan, ada orang yang beli. Gak naik turun secara ajaib. Mempelajari candlestick itu berarti mempelajari perilaku orang yang dicerminkan dari grafik. Apa yang smart money lakukan ? Mengapa mereka hold ? Apa alasannya ? Bukankah semakin pintar seseorang, semakin berhati-hati pula ketika mengambil keputusan. Bukan kayak saya yang asal buy dan asal sell karena takut.

Share this content