Data & fakta sESUNGGUHNYA bahaya virus corona

Ada fakta yang kita lewatkan dari Virus Corona Covid-19 ini. Tes tidak sengaja yang terjadi di tempat yang terisolasi, tanpa rumah sakit, tanpa obat-obatan, tanpa dokter dan perawat, tanpa APD. Jumlah respondennya cukup signifikan, 3.711 orang, laki-laki dan perempuan, multi etinis, multi ekonomi-sosial, dari orang kaya, menengah hingga bawah. 1 orang positif corona, menulari 712 orang dan 14 orang meninggal, sisanya sembuh. Jadi, dimana bahaya Virus Corona ini ? Karena 2.999 lainnya negatif, 698 orang lainnya sembuh.

Timeline Corona di kapal pesiar Diamond Princess

DATA CORONA DI KAPAL DIAMOND PRINCESS

Tidak ada studi yang lebih tepat daripada kapal pesiar ini. Karena datanya begitu terbuka, tempatnya yang terasing dan waktunya yang cukup panjang. Bertolak dari pelabuhan Yokohama tanggal 20 Januari 2020 hingga kembali bersauh di tempat yang sama tanggal 1 Maret 2020. Totalnya 40 hari.

Bencana itu diketahui dari seorang kakek berumur 80 tahun yang berpesiar bersama, kemudian turun di Hongkong tanggal 25 Januari 2020. Tidak ada angin, tak ada awan, tanggal 1 Februari kakek pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan dirinya. Kabar buruknya, dia positif Corona !

" Kasus ini penting. Pertama kali, tanpa pengobatan, mandiri, beragam usia dan suku bangsa.... jika di-diam-kan saja, apa yang akan terjadi ? "

Rumah sakit segera memeriksa riwayat perjalanan dan mengabari kapten kapal bahwa ada seseorang positif Covid-19 yang menaiki kapalnya. Langsung saja jantung awak kapal rontok ! Ya Tuhan... mengapa ini terjadi ?

Tidak apa-apa anakKU, karena ini (seharusnya) akan menjadi patokan tentang bahaya virus Corona bagi semua orang, khususnya umatku di dunia yang matanya terbuka dan bisa melihat kebenarannya.

Kapal Diamond Princess di Lockdown di Jepang. Tanggal 1 Februari berlabuh di pelabuhan Yokohama. Semua penumpang dilarang turun dan dilakukan tes masal. Tentu saja membutuhkan waktu untuk mengambil sampel 3700 orang, paling cepat 3 hari, paling lama 5 hari. Demikian pula untuk mengetahui hasil laboratorium. Tes PCR untuk anak saya saja butuh waktu 1 minggu untuk mengetahui hasilnya.

Demikian pula dengan tes Corona di Jepang. Lebih cepat, tetapi butuh waktu, apalagi jumlahnya banyak, dan mereka baru pertama kalinya mengalami kasus wabah pandemik ini. Jadi jangan salahkan Jokowi dan pemerintahan kalau ada kesalahan ataupun keterlambatan. Semua negara baru pertama kali mengalami masalah ini. Sama dengan malam pertama, pasti semuanya PELTU (Nempel sedikit Metu).

Tes covid-19 kapal di Pelabuhan Yokohama Jepang

Lihat, bahkan negara se-modren Jepang saja membutuhkan 21 hari untuk mengetes 3.700 orang lebih. Dan itu pun tidak akurat atau boleh dikatakan sulit untuk mengetes virus ini. Contohnya 69 ABK asal Indonesia yang dites negatif di Jepang, ketika di Indonesia, dikarantina lagi selama 14 hari di Pulau Sebaru. 68 Negatif, 1 orang positif. Setelah dikarantina lebih lama lagi di Rumah Sakit Persahabatan, orang sebiji ini negatif, sehat walafiat, tidak kekurangan satu apapun.

Dimana letak bahayanya virus Corona ini ? Saya tidak tahu, karena yang mati sedikit, jika dibandingkan dengan yang terinfeksi. Dari 712 orang yang positif, ada 14 orang yang meninggal, dan umurnya yang paling muda 60 tahun. Lainnya, 70-80 tahun. Datanya pun bisa kita lihat :

Penularan virus corona di kapal diamond princess jepang Fakta kasus corona di kapal diamond princess

Maafkan ketidak-piteran saya ini. Bahaya yang saya lihat dari Virus Corona ini adalah :

  1. Cepat menular
  2. Tanpa gejala
  3. Fatal bagi orang tua yang tidak sehat
  4. Fatal bagi orang muda maupun tua yang memiliki penyakit degeneratif seperti kencing manis, darah tinggi, jantung dan sejenisnya.

Untuk bahaya ketiga dan keempat rasanya kurang tepat kalau dikait-kaitkan dengan Corona. Karena jenis orang yang memiliki penyakit itu akan fatal jika diserang panyakit apapun juga. Nda perlu Corona deh. Makan duren kebanyakan bisa mati mendadak, bahkan berhubungan suami istri pun bisa terbang sungguhan, nda balik-balik.

Terus, masalah cepat menular dan tanpa gejala… Apakah pantas disebut berbahaya ? Saya bener-bener tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Apa artinya tanpa gejala ? Berarti tanpa batuk, tanpa panas, tanpa sesak nafas. Benar-benar seperti orang sehat. Dan kenyataannya orang yang tanpa gejala ini tetap sehat. Walaupun di karantina tetap sehat, tidak menunjukkan gejala apapun yang mengancam nyawa.

Ketika di karantina, mereka tidak diberi obat yang bisa menyembukan ataupun menghilangkan virus Corona ini dari tubuh mereka. Yang diberikan dokter dan perawat, untuk pasien tanpa gejala ini, adalah makanan bergizi, vitamin dan obat-obatan untuk mengobati dampak sekundernya. Misalnya batuk, maka diberikan obat batuk. Misalnya panas, maka diberikan obat penurun panas. Selebihnya ya disuruh main HP dan tidur…. Sambil di kurung di dalam kamar ! Selama 14 hari...dan seringnya lebih ! Ini yang bikin stress tingkat dewa !

Boleh dikata….terkena Corona, dikarantina di rumah sakit itu bagai Burung di sangkar emas. Semuanya diberikan cuma-cuma dan berlimpah...kecuali kebebasan !

Data penumpang yang mati di kapal Diamond Princess

Tapi pak….Bukankah tetap ada yang mati karena Corona 1 Betul… Dan mereka umumnya orang yang sudah cukup umur untuk kembali ke rumah Bapa di Surga. Kembali pada pertanyaan mendasar…. Berapa sih rata-rata umur manusia di dunia ini ? Berapa angka harapan hidup manusia untuk tahun ini ? 90 tahun ? 100 tahun ? Atau 70-80 tahun ?

Kita beralih ke pertanyaan berikutnya. Apakah data dari kapal pesiar Diamond Princess ini bisa kita jadikan patokan dasarnya ? Apakah semua negara memiliki kesamaan pola seperti ini ? Kita mulai dari data WHO.

DATA CORONA DARI WHO, Masa Gak PERCAYA ?

Masalahnya, data dari negara mana yang lengkap, sampelnya banyak, laboratoriumnya lengkap dan netral ? Ini yang sulit… Karena tidak ada. Cina bisa memenuhi semua kriteria diatas kecuali netral. Karena masih banyak orang yang menganggap bahwa Cina menutupi data sebenarnya tentang jumlah orang yang positif dan yang meninggal.

Italy ? Nda ada datanya...mereka masih sibuk mengurusi negaranya sendiri. Amerika ? Sama ! Jepang ? Sama. Singapore ? Sampelnya terlalu sedikit.

Jadi, pilihannya hanya Cina saja, yang sudah mengeluarkan laporan lengkapnya mengenai Corona ini. Lagipula, data ini dibuat dengan standar WHO. Ada 25 negara yang juga ikut menganalisa dan membuat laporan ini, diantaranya Jerman, Jepang, Korea, Nigeria, Rusia, Singapore dan Amerika...betul AMERIKA...yang presidennya Donald Trump itu !

Sumbernya dapat didownload di WHO.int, lengkap 40 halaman.

Pertama-tama, yang perlu kita bahas di sini adalah gejala. Apakah saya terkena virus ini atau tidak ? Dari data ini kita bisa yakin sehat ato sakit. Kena virus corona atau kena batuk pilek biasa.

Gejala khas virus ini ada tiga. Dan ketiganya harus bersamaan. Kalo hanya salah satu saja, maka kemungkinan besarnya bukan Corona.

  • Demam
  • Batuk Kering
  • Kelelahan

Kalo demam saja tanpa batuk. Apalagi demam tinggi selama seminggu kemudian turun dan anda semakin lemas. Maka ini penyakit yang lebih berbahaya daripada Corona. Anda kena Demam Berdarah. Harus segera ke rumah sakit, resiko kematiannya lebih tinggi daripada Covid-19.

Kalo batuk-batuk saja, tetapi banyak dahaknya. Apalagi tidak panas sekali, mungkin suhu tubuh anda 37-38°C, kemungkinan besar anda cuma terkena radang tenggorokan yang disebabkan bakteri. Biasanya penyakit ini tidak menyebabkan kelelahan. Badan masih segar, tapi ya gitu...tenggorokan gatel, pingin batuk sesekali. Bukan batuk terus-menerus.

Panas, batuk dan kelelahan adalah gejala utama dan sering muncul ketika seseorang terjangkit virus Corona ini. Gejala lainnya yang mendukung adalah sesak nafas (18,6%) dan tenggorokan gatal (13,6%). Maksud gejala pendukung ini adalah anda harus panas, batuk terus-menerus dan lelah dulu. Bukan dibalik, sesak nafas tanpa disertai panas-batuk-lelah. Sakit itu ada step-by-step nya yang berurutan. Nda bisa loncat-loncat dan instan.

Artinya, positif Covid-19 tidak langsung Pneomunia. Perjalanannya masih panjang. Tubuh kita tidak selemah itu. Kena virus sedikit mati ! Kena Corona langsung KO masuk rumah sakit dan meninggal di ICU. Itu propaganda ! Bukan data dan fakta.

Yang saya paparkan di sini adalah data sebenarnya, dari 55.924 sampel yang diuji di laboratorium yang canggih. Kenapa kita banyak mendapatkan berita kematian dari Whatsapp dan media sosial lainnya, bahwa ada orang sehat (yang sebenarnya tidak kita ketahui dan tidak kenal) kena Corona lalu mati ?

Saya sendiri juga bingung dengan grup-grup Whatsapp saya. Ngapain berita orang mati di share di grup. Sembarang-sembarand di share. Mungkin tujuannya baik, untuk memperingatkan kita, supaya kita berhati-hati, supaya kita waspada atau supaya kita menemukan solusi. Tapi dari ratusan share-share yang saya terima, hanya 2 saja yang datanya akurat. Lainnya ngawur, atau kejadian yang terjadi bertahun-tahun lalu.

Tetapi begitulah ciri khas manusia. Lebih mudah menyebar kabar negatif daripada kabar positif. Ini pun sudah ada penelitiannya. Sebuah kabar jelek dibagikan kepada 10 orang. Sementara kabar baik hanya dibagikan kepada 1 orang saja. Tidak heran jika hoax - hoax ini memenuhi HP saya dan HP anda.

Jika dihubungkan dengan politik, maka pembahasan ini bisa panjang lebar. Karena Corona ini adalah kesempatan emas, yang saya lihat ada dua :

  1. Kesempatan untuk menjelek-jelekkan pemerintahan sekarang. Tujuan utamanya menurunkan Jokowi.
  2. Kesempatan untuk menaikan popularitas perorangan atau partai. Tujuannya tentu pencitraan untuk pilkada, pilpres dan pil-pil lainnya.

Semua orang suka perubahan yang lebih baik...asalkan tidak mengusik sumber penghasilannya. Dan masalahnya di sini, kebijakan Jokowi membuat mereka tidak bisa korupsi lagi. Mungkin halusnya seperti ini, menjual sesuatu dengan menerima komisi, yang berada di zona abu-abu. Tidak bisa dikategorikan korupsi.

Jadi, apakah orang yang terkena Corona pasti mati ? Apakah ini pertanyaannya ? Apakah ini kekuatiran kita ? Apa kata WHO berdasarkan data dari Wuhan ini ?

Data persentase kesembuhan dan kematian karena Corona

Data terakhir yang kita ketahui tentang penderita Corona di Wuhan adalah 83.022 orang. Tetapi, pada waktu laporan ini dibuat, 24 Februari 2020 lalu, jumlah orang positif Corona adalah 55.924 orang.

80% yang terkena Covid-19 akan mengalami gejala ringan dan sedang. Bukan berarti tanpa gejala sama sekali. Bukan OTG atau Orang Tanpa Gejala. Tidak ada istilah itu di Cina. Tidak ada penyakit, baik yang disebabkan Virus atau Bakteri tanpa menimbulkan gejala sama sekali.

Bukan berarti di Wuhan tidak ada OTG. Laporan WHO ini menyatakan ada beberapa kasus dimana orang positif tetapi tidak ada gejalanya sama sekali. Tetapi sangat jarang dan bukan penyebab utama penularan Covid-19.

Memang pada waktu itu, kasus orang tanpa gejala ini tidak penting. Lebih penting mengurusi orang yang sudah terjangkit agar bisa sembuh dan mencegah penyebarannya. Apakah jumlah orang tanpa gejala ini banyak ? Seperti yang digembor-gemborkan media seperti sekarang ini ? Apa akibatnya bila ternyata OTG ini berkeliaran di jalan-jalan ?

" 2 Februari, Wuhan Lockdown. Dimulai 17.205 kasus.

30 hari kemudian, jumlahnya menjadi 81.620. "

Kita tidak akan pernah tahu jawabannya karena China langsung melakukan Lockdown total. Tidak ada yang bekerja, tidak ada WFH. Semua berhenti total, dan semua orang dikurung di rumah. Tidak ada yang boleh masuk ataupun keluar dari Wuhan. Bahkan semua orang harus di dalam rumah. Polisi dan tentara ditempatkan di setiap perempatan jalan. Keluar-Masuk Rumah harus diperiksa dan menunjukkan data kesehatan yang terinstall di HP Android mereka.

Apakah langsung tidak ada penambahan kasus baru setelah tanggal 2 Februari 2020 ? Tidak. Kasus baru tetap ada sampai sebulan setelahnya atau 2 kali PSBB ala Indonesia.

Data lockdown di Wuhan. Apakah bisa menghentikan penyebaran virus ?

Mengapa bisa seperti itu ? Karena memang ciri khas Covid-19 ini mudah menular. Seperti sakit flu biasanya. Kalo ada satu orang di rumah kena batuk pilek, seisi rumah pasti kena. Kalau ada anak batuk pilek di kelasnya, dapat dipastikan seluruh kelas akan bergantian kena bapil ini. Bukan sesuatu yang luar biasa di Indonesia. Tetapi hal yang biasa, seperti makan tiga kali sehari. Berdasarkan data, kita ini kena flu 2-3 kali setahun.

Covid-19 adalah virus yang menyerang saluran pernafasan (bahasa halusnya). Bahasa gaulnya Covid ini adalah penyakit influenza. Tetapi kenapa ada tambahan mematikan ? Siapa yang menambahkan ? Apakah ada orang yang mati karena batuk pilek ini ?

Pada tulisan saya sebelumnya, influenza adalah penyakit mematikan ketiga di dunia. Ini adalah data WHO selama 20 tahun terakhir. Jumlahnya berkisar 3.000.000 orang per tahun, atau 5,7% dari penduduk dunia.

Jadi, ada atau tidak ada Corona ini, orang yang meninggal karena penyakit pernafasan ini tetap ada.

Pada grafik di atas, ada garis biru yang naik dan juga ada garis hitam yang landai di bawah. Saking mepet ke angka nol, kita tidak begitu memperhatikannya. Garis biru itu adalah jumlah orang yang terkena virus Corona. Sedangkan garis hitam di bawah itu adalah jumlah orang yang meninggal.

Kok sedikit ? Ya itulah, tergantung bagaimana kita menyajikan data. Bisa dibuat menggembirakan atau dibuat mengerikan. Data bisa dimanipulasi. Itu kenyataannya ! Dan ada orang yang tega untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk keuntungannya sendiri.

Mortality Rate, atau tingkat kematiannya 3,8%. Anda salah kalau menganggap bahwa orang yang kena gejala berat saja yang pasti mati. Semua orang, baik yang menunjukkan gejala ringan, sedang, berat dan kritis memiliki peluang kematian yang sama.

Lihat lagi grafik sebelumnya. Ada garis hijau yang mengarah ke kesembuhan dan juga ada garis merah yang mengarah ke kematian. Setiap penderita, baik itu ringan maupun berat mempunyai peluang untuk sembuh dan mati. Artinya, ada orang yang kena covid-19 dengan gejala ringan, tetapi tiba-tiba kondisi kesehatannya menurun dengan cepat dan akhirnya mati.

Demikian sebaliknya, ada orang yang masuk dalam keadaan kritis. Dokter pun angkat tangan.... tetapi pasien ini ternyata selamat, sehat tanpa kekurangan apapun. Bagaimana bisa seperti ini ? Karena ada yang disebut dengan misteri kehidupan. Hidup-mati seseorang itu ada di tangan Tuhan. Ketika Dia menghendaki sesorang mati...tidak ada yang bisa menghalangi. Demikian pula ketika Dia menghendaki sesorang untuk hidup... tidak ada virus yang sanggup membunuhnya.

Tingkat kematian karena Corona berdasarkan usia

Jadi, faktor apa yang meningkatkan resiko kematian karena virus ini ?

  • Penyakit degeneratif. Bahasa gaulnya darah tinggi, stroke, penyakit jantung, kencing manis, penyakit kronis lainnya dan kanker.
  • Usia. Namun umur di sini bukan umur dalam arti yang tersirat.

Ilustrasi paling mudah adalah Christiano Ronaldo, pemain sepak bola terkenal itu loh. Berdasarkan KTP-nya, umur Ronaldo sekarang ini 35 tahun. Tetapi jika dilihat dari kondisi fisik dan biologisnya, atau berdasarkan tes kesehatannya. Umurnya adalah 20 tahun.

Artinya, walaupun seseorang berdasarkan KTP-nya berumur 50 tahun, tetapi secara medis, kondisi kesehatannya menyerupai seseorang yang berumur 40 tahun. Demikian pula sebaliknya. Ada orang yang secara KTP berumur 27 tahun, tetapi hasil medical check-up nya menunjukan seperti orang yang berumur 39 tahun.

Bagaimana anda bisa tahu kondisi kesehatan anda sekarang ini ? Gampang, lihat saja dari makanan anda sehari-harinya. Lebih banyak makan daging atau sayur-sayuran ? Lebih banyak makan di rumah atau makan di luar. Berapa banyak buah yang anda makan setiap hari ? Berapa jenis ?

Anda pikir makan 3 sendok sayur sehari itu cukup ? Memang lebih baik daripada tidak sama sekali. Seberapa lama anda kena panas setiap harinya ? Itu Vitamin D yang dibutuhkan tulang dan menurunkan resiko penyakit pernafasan.

Tingkat kematian berdasarkan penyakit bawaan

Dari data WHO, orang yang berumur 80 tahun keatas memang memiliki tingkat kematian tertinggi. Tanpa kena Covid pun resikonya sudah besar. Daya tahan tubuh mereka melemah karena usia, sudah takdir kehidupan. Lagipula mereka sudah siap pulang ke rumah Bapa di surga. Sebenarnya ini hal yang lumrah, jadi bukan sesuatu yang luar biasa. Dan tidak perlu digembor-gemborkan, dikompor-kompori lagi.

Harapan hidup orang jaman sekarang ini 75 tahun. Jadi kalo bisa hidup diatas itu sudah merupakan bonus.Jadi, umur 70 tahun keatas memang resiko kematiannya tinggi. Itupun sudah sesuatu yang lumrah. Jika Mortality Rate-nya 8%, maka itu wajar...wajar sekali ! Tanpa perlu ditambahi Corona pun sudah segitu.

Jadi mengapa kok heboh buaanget seh ? Sepertinya...seakan-akan dunia ini akan kiamat ! Kiamat karena apa ? Karena banyak orang yang tertular ? Wuhan juga banyak yang sakit Corona.... dan 96,2% dari mereka sembuh, sehat, tidak kekurangan apapun. Berapa persen yang tidak selamat ? 3,8%... banyak atau sedikit ? Tergantung dari mana kita melihatnya.

Upss...kali ini...di era SosMed...bukan tergantung dari sudut pandang atau logika kita. Tetapi lebih karena pengaruh sosmed. Semakin banyak informasi negatif yang kita terima, semakin besar pula ketakutan dan imajinasi kita.

" Tingkat kematian 3,8 % itu bukan berarti 4 dari 100 orang PASTI mati.

Tetapi....

96 orang PASTI sembuh dan 4 orang bisa sembuh bisa mati. "

Data kematian di Wuhan, resiko kematian pasien dibawah 70 tahun adalah 3,6%. Artinya, 4 orang dari 100 beresiko meninggal dunia. Artinya.... memiliki kemungkinan.... bisa... mungkin...kabar terburuknya.... paling jelek.... itu artinya angka 3,6% ini. Bukan diartikan sebagai, 4 dari 100 orang pasti meninggal. Paham ? Mudeng ?

Anda bertaruh dengan teman anda. Taruhannya 100 ribu rupiah. Kalo anda menang, anda dapat 200 ribu. Persentase anda menang 96%. Mau ato tidak ? Artinya dari 100 kali taruhan, akan menang sebanyak 96 kali. Kemungkinan kalah 4 kali. Jika ditotal, maka anda akan mendapatkan uang Rp 9.600.000. Dan kalah sebanyak Rp 400.000.

Jadi, faktor apa yang membuat orang tidak bisa selamat dari Corona ini ? Faktor penyakit bawaan tadi. Penyakit kronis yang anda bawa sebelum kena Corona.

Anda berumur 40 tahun, terakhir medical check-up tidak ditemukan kelainan dalam tubuh anda. Ginjal, jantung, pankreas, paru-paru, lever, tekanan darah anda normal. Maka peluang anda sembuh 99,6% ! Setelah kena virus ini, paling banter panas, ngeblak selama 3 hari. Setelah itu sembuh, sehat tidak kekurangan apapun.

Anda berumur 30 tahun, tetapi karena tekanan pekerjaan, anda punya riwayat darah tinggi, 160/110 dan gula darah anda diatas normal, tidak terlalu tinggi, tetapi diatas normal. Jika positif Corona....berapa persen peluang anda mati ?

Apakah 0,2% + 8,4% + 9,2% = 17,8%

Ini kesimpulannya siapa ? Mana bisa kondisi kesehatan seseorang dinilai dari angka linear seperti ini ? Kalo punya dokter pribadi, atau teman dokter, tanyakan pada mereka...apakah berani memastikan hitung-hitungannya seperti ini ?

Tubuh manusia itu rumit, serumit menemukan vaksin Corona. Terlalu banyak faktor yang saling mempengaruhi. Kita bukan komputer yang selalu menjawab 1+1 = 2. Kita bukan mesin yang selalu mengelurakan produk yang sama. Bukan A+B = C. Sistem tubuh kita itu rumit, tidak ada orang yang mampu mengerti cara tubuh kita seutuhnya.

Sama halnya ketika seorang kakek umur 70an tahun terkena Corona. Apakah bisa dipastikan akan mati ? Data yang saya baca tidak demikian. Salah satunya adalah penumpang kapal Diamond Princess ini..

David Abel naik kapal ini bersama istrinya. Tinggal sekamar lagi. Tetapi yang positif Corona hanya David saja. Istrinya negatif. Kok bisa ? Padahal...katanya Covid-19 ini mudah menular ? Begitulah.... karena tubuh kita ini unik. Bukan 1 + 1 = 2. Ada banyak faktor yang tidak bisa dipahami. Ada hal yang seharusnya terjadi, tetapi tidak terjadi. Dan juga ada hal yang seharusnya tidak terjadi...malah terjadi begitu saja.

Terus...apakah benar-benar sehat sempurna tanpa kekurangan apapun ? Di usianya yang beresiko tinggi itu ? Cek aja di Facebook David Abel. SEHAT Walafiat !! Malahan wes keluyuran di hutan naik perahu !

 

KESIMPULAN
Selalu ada yang hidup dan mati. Ada yang lahir dan meninggal. Begitulah siklus kehidupan. Demikian pula ketika terkena penyakit, ada yang sembuh dan ada yang tidak selamat. Data dari Wuhan, Cina menyatakan dengan jelas bahwa 96% yang terkena COVID-19 ini pasti sembuh. Data di Spanyol, Amerika, Brazil, dan Indonesia. Ada yang mati, tetapi yang sembuh juga banyak. Jauh lebih banyak daripada yang mati.

Artinya apa ? Virus Corona ini memang benar-benar ada.....tetapi... bukan lawan bagi sistem kekebalan tubuh kita. Dari skala 1 - 10, dimana angka 1 itu biasa dan angka 10 itu berbahaya, maka saya memberi skor 5. Tidak perlu paranaoid, cukup waspada !

Share this content