Website Wapannuri

PMB - PENDIDIKAN YANG BERKESINAMBUNGAN (5-5)

Bagian 5 dari 5 Panduan Dasar Merawat Bayi - Lebih ke konsep bukan praktis

Cara mendidik anak yang benar

ita menilai kebenaran berdasarkan apa yang kita ketahui tentang benar dan salah. Kita menilai baik atau jahat berdasarkan moral pribadi. Kita menjadi seperti sekarang ini karena perjuangan sendiri. Kita mendidik anak berdasarkan pengalaman dididik oleh kedua orangtua kita. Kita berusaha untuk tidak meniru tingkah laku orangtua kita yang salah, namun kenyataannya Semakin keras kita berusaha untuk tidak menjadi seperti mereka semakin mirip kita jadinya. Kontradiksi yang aneh tapi nyata !

 

KEUNTUNGAN MERAWAT ANAK SENDIRI

Sejujurnya saya tidak menemukan referensi yang meyakinkan di internet tentang keuntungan merawat anak sendiri. Saya mencari dengan bahasa inggris, tidak ada jawaban yang memuaskan. Saya mencari di blog bahasa indonesia....mbencekno sekali, isinya kosong. Sepertinya kopas dari satu artikel kemudian kata-katanya dirubah sedikit.

Yang saya temukan hanyalah keuntungan menyerahkan anak ke baby sister atau ke orangtua. Kita bisa kerja mencari uang seperti pasangan baru menikah dan single. Justru saran seperti inilah yang banyak saya temukan di artikel maupun forum online. Laaaah....enak sekali pasangan jaman sekarang ini. Cuman bikin anak tok. Merana sekali jadi orangtua. Sudah besarkan kita, tuanya masih disuruh momong cucu.

Setiap orang yang lebih tua dari saya pasti saya tanyai pendapatnya, "Mana yang lebih baik ? Momong anak sendiri atau diserahkan ke suster / orangtua ? "

Keuntungan merawat anak sendiri dibandingkan dengan suster

Jawaban umumnya adalah biaya hidup yang tambah lama tambah tinggi. Jaman sekarang ini, kalau suami-istri tidak kerja, maka kebutuhan hidup tidak akan tercukupi. Apalagi jika dihubung-hubungkan dengan biaya sekolah nantinya. Kalo tidak menabung mulai dari sekarang, mana cukup buat bayar uang gedungnya ?

Saya memahami jawaban ini, namun saya tidak puas. Apakah memang cara membesarkan anak harus seperti ini ? Mengapa orang jaman dulu bisa membesarkan anak-anaknya sendiri tanpa suster ? Karena biaya hidup jaman dulu lebih murah dari sekarang. Dan cari uang jaman dulu lebih gampang dari sekarang.

Saya tidak setuju dengan pendapat ini.

Justru sebaliknya, cari duit sekarang ini lebih gampang daripada jaman dulu. Sekarang ini cukup dengan HP saja sudah bisa menjadi pedagang. Download aplikasi OLX lalu cari barang sebanyak-banyaknya untuk di posting di internet. Tanpa modal dan tanpa perlu buka toko sudah bisa jualan.

Bagaimana anda mencari tukang talang, tukang servis AC, atau tukang cat 10 tahun lalu ? Pasti dari teman ke teman saja. Bandingkan dengan sekarang yang hanya perlu membuka smartphone dan mengetikkan "tukang talang surabaya" atau "servis ac jakarta". Bukankah menemukan pembeli dan penjual sekarang ini lebih cepat dan mudah ?

Mencari uang sekarang ini sulit karena anda menggunakan cara 10 tahun lalu dimana tidak ada internet, harga hp masih mahal dan ketersediaan barang masih terbatas. Kesulitan mencari uang jaman dulu dan jaman sekarang tetap sama, yang berbeda hanya caranya. Jika kita tidak merubah pola pikir kita dan terbuka terhadap perubahan jaman, sudah pasti kita akan kesulitan mencari uang.

Ok lah... seandainya pasangan suami istri sudah lebih dari cukup untuk membiayai anak-anaknya, berarti anak dimomong sendiri oleh kedua orangtuanya ? Bisa iya dan juga bisa tidak ? Mengapa tidak 100% Ya ? Padahal alasannya utama tidak momong anak adalah masalah ekonomi. Sekarang masalah ekonomi sudah selesai, mau pakai alasan apa lagi ?

Wah, cita-cita kami men-sekolah-kan anak ke luar negeri pak ! Biaya sekolah anak sudah cukup, tapi biaya untuk liburan keluarga ke luar negeri masih belum ada pak. Kalo sudah terkumpul, sudah mau momong anak sendiri ? Belum pak, kami juga harus menyiapkan biaya pernikahan anak juga. Setelah menikah juga harus membelikan mereka rumah. Setelah itu juga mempersiapkan uang pensiun kami pribadi.

Jadi kapan cukupnya ? Seumur hidup kita tidak akan pernah bisa memuaskan keinginan yang menyamar sebagai kebutuhan. Justru semua yang kita persiapkan tadi standar hidup idaman kita semua. Namun apakah hal ini bisa dijadikan alasan untuk tidak momong anak sendiri ?

" Salah besar ! Itu bukan perubahan zaman. Itu perubahan gaya hidup !"

Saya pikir kita semua mencari kambing hitam keberadaan anak untuk memenuhi egoisme kita sendiri. Istilah saya, "Cuman buat anak tok ! Sisanya diserahkan orang lain. "

Mengapa kita semua menolak secara halus merawat dan mendidik anak-anak kita sendiri ? Perubahan zaman ?

Ucapan saya langsung dibantah keras oleh salah seorang dosen ITS, " Salah ! Bukan perubahan zaman. Itu perubahan gaya hidup !"

Otak saya langsung "nge-klik". Betul sekali, Itu perubahan gaya hidup, bukan perubahan zaman. Gaya hidup bukan keharusan tetapi sebuah pilihan. 10 orang menyerahkan anaknya ke suster dan 1 orang momong anak sendiri. Kira-kira mana yang dianggap cara merawat anak yang benar ?

90% teman kita pake suster dan mereka lebih bahagia. Bisa jalan-jalan ke mall, bisa menikmati waktu pribadi dan juga bisa kerja cari uang sendiri. 10% teman kita momong anak sendiri dan mereka mengeluh terus. Kecapaian, tidak memiliki waktu pribadi dan bikin keki. Mana yang lebih nikmat ?

Jelas sekali pendirian saya goyah karena kenikmatan ini. Momong anak sendiri mengorbankan perasaan, karier dan waktu pribadi kita. Mendidik dan merawat anak sendiri tidak ada untungnya. Lebih banyak ruginya.

 

MANUSIA 3 DIMENSI

Ya, anda dan saya adalah makhluk hidup yang memiliki tubuh, jiwa dan roh. Ini pelajaran tingkat SD yang terbukti secara ilmiah. Masing-masing dimensi memiliki rasa lapar dan rasa kenyang. Nasi putih adalah pemuas rasa lapar tubuh kita. Air putih pemuas dahaga kita. Ketika panasnya minta ampun, segelas es teh manis memuaskan jiwa kita.

Kebutuhan dasar manusia

Mengapa bukan air putih untuk tubuh yang kehausan ? Karena kita memiliki dorongan dari dalam jiwa ini. Demikian pula dengan keinginan dicintai dan mencintai seseorang. Kangen pacar hanya bisa dipuaskan dengan apel ke rumahnya. Tidak bisa dipuaskan melalui es teh manis ataupun es campur. Kebutuhan tubuh berbeda dengan kebutuhan jiwa.

Namun terlalu banyak minum es teh manis akan membuat tubuh kelebihan gula, lalu kena kencing manis dan akhirnya meninggal dunia karena sakit kritis. Itulah akibatnya menuruti keinginan jiwa. Memang makan tiga kali sehari adalah standar hidup mendasar. Demikian pula dengan mobil keluarga, rumah milik sendiri dan rekreasi. Itulah kebutuhan yang harus kita penuhi.

Masalahnya ada pada kata "cukup". Definisi cukup ini berbeda-beda bagi semua orang. Ada yang sudah merasa cukup memiliki sepeda motor. Ada juga yang belum merasa cukup memiliki Toyota Avanza. Dan masih banyak istri-istri yang merasa belum cukup dengan penghasilan suaminya. Karena itulah mereka memaksa untuk bekerja dengan alasan membantu ekonomi keluarga.

Sebenarnya alasan ini untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya atau kebutuhan jiwanya ? Hanya anda sendiri yang bisa menjawab pertanyaan ini.

" Tanyakan pada diri anda sendiri, apa yang sebenarnya dibutuhkan anak anda ?
Mainan atau Kedua orangtuanya ? "

Nah, apakah anak anda termasuk manusia atau bukan ? Apakah mereka memiliki tubuh, jiwa dan roh ? Siapa yang harus memenuhi kebutuhan ini ? Apakah kebutuhan tubuhnya sama dengan kebutuhan jiwanya ?

Apa yang dimaksud dengan egois ? Menurut Kamus besar bahasa indonesia, egois adalah orang yang selalu mementingkan diri sendiri. Dalam kasus ini, anak dan kita sama-sama memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. Masalahnya, kebutuhan siapa yang harus dipenuhi terlebih dulu ?

Yang benar adalah kebutuhan orangtuanya dulu, baru kebutuhan anak. Karena hidup matinya anak tergantung dari yang merawatnya. Kalo yang momong lemah tak berdaya, bagaimana caranya bisa memenuhi kebutuhan anak yang tidak ada habisnya itu ? Namanya anak-anak, tentu saja banyak maunya dan banyak tingkahnya. Kalo kita kelaparan, bisa jatuh tuh anak. Kalo kita ngantuk, bisa nabrak meja.

Di sinilah kita harus memikirkan kembali kata "cukup". Tetangga kita punya mobil untuk jalan-jalan bersama anaknya. Kita cuman punya sepeda motor. Cukup atau tidak ? Atau, kita sudah punya Toyota Agya, tapi terlalu kecil mobilnya. Harus diganti dengan Kijang Inova biar "cukup" ! Lah, kalo mampunya cuman beli Agya...!

Itulah manusia, lebih mengutamakan penampilannya daripada karaternya. Lebih memperhatikan kebutuhan tubuhnya daripada jiwanya. Lebih menuruti nafsunya daripada nuraninya.

Padahal pertumbuhan karakter dimulai dari roh, jiwa dan terakhir tubuh. Ingat istilah inner beauty ? Dunia selalu memutar balik kebenaran. Apa yang benar dijadikan salah, dan apa yang salah dianggap benar. Tidak percaya ? Tanyakan kepada hati nurani anda sendiri, yang benar itu mendidik anak melalui tangan sendiri atau tangan orang lain ?

Jika masih belum cukup, jawab dengan jujur pertanyaan saya ini, "Anda bekerja demi gaji atau demi keberhasilan perusahaan ?" Apakah anda bersedia menyelesaikan tugas rekan kerja tanpa tambahan gaji ? Mengapa tidak mau ?

Demikian pula suster jaman sekarang. Mereka hanya mau bekerja sesuai tugas dan tanggung jawabnya. Apa itu ? Memenuhi kebutuhan tubuhnya seperti mengajak mainan, makan, minum, be'ol, pipis dan ngendong. Semakin tenang anaknya, semakin senang anda berdua. Tau-taunya anak besar dan blo'on karena terlalu banyak dikasih obat penenang waktu bayi. Atau menjadi hiperaktif karena energinya terpendam akibat CTM.

Lalu, kebutuhan jiwa anak seperti dicintai dan mencintai dipenuhi siapa ? Anda berdua kecapaian begitu pulang kerumah. Anak nakal sedikit langsung dibentak. Tanya ini itu dimarahi. Tanya ke suster dijawab asal-asalan karena bukan tugasnya. Tanya ke mama disuruh tanya ke papanya. Pergi ke papanya, disuruh kembali ke mamanya.

Nah, kepada siapa anak malang ini harus menaruh kepercayaannya ? Yang jelas bukan kepada anda berdua sebagai papa dan mamanya. Sudah pasti lebih percaya pada suster yang bekerja karena gaji, seperti yang anda lakukan terhadap perusahaan. Padahal hubungan terbentuk karena faktor kepercayaan. Padahal 5 tahun pertama usia anak adalah masa emas pertumbuhannya. Yang lebih parah lagi, masa ini adalah peletakan batu pertama karakter dan moral.

Cara merawat anak yang benar itu diasuh sendiri oleh orangtuanyaApakah anda mencintai anak anda ? Jelas, namun cinta anda dalam tanda petik. Anda pikir memberikan mainan sebagai ganti waktu bersama anak itu perwujudan cinta ? Memang cinta bisa diganti dengan uang ?

Sebenarnya anda itu egois sekaligus munafik. Anda memberikan uang, padahal kebutuhan anak adalah waktu. Sementara orangtua anda membutuhkan uang, namun yang bersedia anda berikan adalah waktu.

Mengapa bisa seperti ini ? Karena cinta sejati hanya bisa dipelajari dari merawat anak sendiri. Disana kesabaran, ketekunan, komitmen dan pengabdian diuji. Semenjak momong anak, saya sadar memengunjungi orangtua saya seminggu sekali tidak cukup.

Harus memberikan uang ke mereka sebagai bukti berbakti kepada orangtua.

Anda salah jika menganggap kondisi ekonomi saya sudah lebih dari cukup. Saya memberi uang ke orangtua dalam keadaan kekurangan. Mengapa tetap saya paksakan ? Karena saya sudah lama menunda memberi uang ke mereka dengan alasan tidak punya uang yang cukup. Waktu masih jomblo tidak, setelah menikah juga tidak, hingga saat ini sudah beranak pun masih belum. Sudah lebih dari 10 tahun, tapi masih belum saja bisa menyenangkan orangtua. Mau ditunda sampai kapan lagi ? Apakah saya cinta orangtua saya ? Cinta. Buktinya ? Tidak ada.

Layakkah saya mendidik anak saya agak kelak menyayangi saya ? Saya memberi contoh yang sebaliknya. Memberi uang pada mereka yang memerlukan waktu bersama dan memberi waktu kepada yang membutuhkan uang. Parahnya, anak belajar dari melihat, bukan melalui kalimat.

 

CARA BELAJAR DAN MENGAJAR ANAK

Apa yang akan terjadi jika seekor anak rajawali dibesarkan bersama-sama dengan anak ayam ? Anak rajawali itu akan berperilaku seperti anak ayam . Karena semua orang tahu bahwa keluarga dan pergaulan akan membentuk perilakunya.

Anda berdua adalah sarjana, suster anda lulusan SD, paling banter SMP. 90% waktu anak dihabiskan bersama suster. Masuk akal kah mengharapkan anak berperilaku seperti anda berdua ? Loh pak, yang penting adalah kualitas, bukan kuantitas. Betul sekali, saya setuju dengan hal ini.

Seperti apa kualitasnya jika anda berdua pulang ke rumah dalam keadaan lelah ? Bukankah kualitas terbaik muncul ketika badan segar ? Bukankah orang yang lelah menjadi mudah marah ? Bukankah tubuh memaksa otak untuk beristirahat ketika kelelahan ? Sanggupkah kita tetap berpikir jernih ?

Mengapa anak belajar dengan meniru ? Karena meniru adalah cara termudah yang diketahuinya. Dan otaknya masih belum mampu mengolah informasi dengan sempurna. Anak memang mengerti kalimat yang kita ucapkan, namun tidak mengerti maknanya.

Anak tidak bisa mengerti arti kata "bahaya" atau "sakit" yang dia kenali hanyalah rasa tidak nyaman pada salah satu bagian tubuhnya. Anak tidak mengerti kata "frustasi", yang dia tahu hanyalah tidak bisa melakukan apa yang dia inginkan. Konsep emosi adalah sesuatu yang baru dalam hidupnya. Bahkan perasaan "senang" itu pun tidak dipahaminya.

Pada usia 8 bulan, mulai muncul rasa "self belonging". Dia baru menyadari "tubuhku", bagian dari diriku. Cara mengetahuinya mudah, tempelkan isolasi pada tubuhnya, jika dia berusaha melepasnya berarti self-belonging itu sudah muncul. Jika dia tidak menunjukan reaksi, berarti belum muncul.

Sampai usia 18 bulan, anak belum bisa memahami konsep "waktu", karena itulah dia akan menangis jika tidak melihat seseorang di sampingnya. Baginya tidak ada berarti hilang. Namun kita yang dewasa tahu perbedaan kata "pergi" dan "tunggu". Anak-anak hanya mengerti "ada" dan "tidak ada".

" Anak belajar dari meniru. 90% waktunya bersama suster & pembantu. Jadi, tingkah laku siapa yang akan ditirunya ? "

Anak lebih mudah mengerti konsep "keberadaan" daripada "waktu". Ketika dia mulai bisa menyembunyikan mainan di dalam bantal maka dia telah siap diajari kata "tunggu sebentar".  Dia telah memahami konsep apa yang tidak dilihat bukan berarti tidak ada. Bayangkan, mempelajari hal sepele ini membutuhkan waktu berbulan-bulan. Betapa panjang perjalanan kita bersama mereka.

Siapa yang akan ditirukan oleh anak ? Siapa saja, papanya, mamanya, neneknya, tetangganya dan susternya. Karena itu anak-anak lucu.

Seperti teman anda yang pandai menirukan orang lain. Bedanya anda tahu mana yang pantas ditiru dan yang tabu. Sedangkan anak belum memiliki kemampuan itu. Dan tugas mengajarkan baik atau jelek, benar atau salah berada pada orangtuanya.

Inilah yang disebut dengan pendidikan moral. Bagian tersulit dalam kehidupan. Moral bukan benda, tetapi abstrak. Tidak bisa dilihat atau diraba, hanya dirasakan oleh dirinya sendiri atau orang lain. Bagaimana mengajarkan konsep yang kita sendiri pun tidak tahu persis kepada mereka ?

Benar dan salah itu tidak mutlak, tergantung situasinya. Agama mana yang benar ? Tentunya agama yang saya percayai. Lalu orang yang berbeda agama itu salah ? Harus dibetulkan ? Demikian pula dengan konsep perbuatan baik. Menolong orang lain itu baik, tetapi dimanfaatkan orang lain itu tidak baik. Di mana perbedaan antara berbuat baik dengan dimanfaatkan ? Tipis sekali perbedaannya.

Karena itulah cara terbaik mengajar anak adalah dengan teladan kita. Siapa yang menjadi panutan anda ? Tentunya orang yang pandai, bijaksana dan bisa dipercayai. Bagaimana caranya mempercayai mereka ? Dengan bertemu setiap hari, melihat perbuatannya dan berkomunikasi. Bisakah kita menjadikan orang yang kemarin kita kenal sebagai teladan ? Atau salah seorang teman lama yangq baru ketemu kembali sebagai teladan ?

Jadi, apakah realistis mengharapkan anak meneladani kita karena sudah memenuhi kebutuhan fisiknya ? Yang lebih masuk akal meneladani pengasuhnya, entah itu kakek-neneknya atau suster dan pembantu rumah tangga kita.

Beberapa hari yang lalu saya mengajari keponakan saya membuat website. Saya tahu pasti mereka berdua didikan oleh mamanya sendiri. Tidak pakai suster maupun pembantu. Yang sulung kuliah semester 3, sedangkan adiknya semester 1.

Sungguh anak-anak yang sopan dan cerdas. Saya diambilkan makan siang, diambilkan gelas minum juga. Makan ditemani, setelah selesai ditunggui, piring dan gelas saya diambil untuk dicuci. Pulangnya pun saya diantar sampai ke depan teras.

Ya Tuhan....mantan pacarku sendiri tidak seperti ini. Alangkah senang yang menjadi orangtuanya. Ini anak 80% nanti akan sayang papa-mamanya. Masa tua mereka pasti terjamin. Dan jangan salah, keluarga keponakan saya ini termasuk orang kaya. Jauh lebih kaya daripada saya.

Cara merawat anak 2 tahunSaya juga berkesempatan berpergian bersama keluarga tempat saya, suami istri lengkap dengan dua anak perempuannya. Yang sulung SMA kelas satu, sedangkan yang bungsu SMP. Dari kecil sampai sekarang mereka diasuh oleh neneknya, senin-sabtu. Hanya tidur malam saja di rumah orangtuanya plus hari minggu full day.

Saya masuk ke mobilnya, di diemin, selama di mobil main hape. Ditanyai papa-mamanya jawabannya sembarangan, terserah dan pendek-pendek. Waktu makan pun gak pamitan. Saya pulang juga di-diamkan. Dan juga tidak bilang terimakasih, padahal saya sudah meluangkan waktu untuk mencarikan laptop untuk mereka.

Persamaan kedua anak-anak ini adalah sehat semuanya. Kebutuhan fisiknya terpenuhi. Namun perbedaannya pada moral.

Mengapa moral tidak bisa diajarkan oleh orang lain ? Karena mereka tidak memelihara, mencukupi kebutuhannya. Semakin besar anak, semakin tahu siapa yang menjadi pemelihara mereka. Namun karena tidak adanya ikatan emosional, maka nilai moral tidak bisa mereka terima. Lalu nilai-nilai mana yang akan dianutnya ? Dari teman-teman mereka. Lah kalo 90% temannya juga dididik dengan cara yang sama, terus bagaimana ?

Di sinilah peran internet dan sosial media mengambil alih pendidikan moralnya. Kepercayaan terhadap trend lebih besar daripada kepada orangtuanya. 

Karena itulah semakin lama semakin banyak anak-anak yang kurang ajar kepada orangtuanya.

 

PENDIDIKAN BAGI ORANG TUA

Kita mengajarkan apa yang kita ketahui. Apa yang diajarkan orang tua, kita ajarkan juga kepada anak-anak kita. Karena itu apa yang benar bagi suatu keluarga, belum tentu benar bagi keluarga lainnya. Teman saya tidak memperbolehkan anak-anaknya bermain internet, sedangkan saya setiap hari memutar video anak-anak dari youtube.

Apakah teman saya salah mendidik anak-anaknya ? Ataukah malah saya yang salah ? Tidak perlu diperdebatkan karena bukan masalah mendasar. Tetapi jika menyangkut nilai-nilai dan norma-norma universal, maka kita harus mengingatkan. Jika ada orangtua yang membenarkan mengambil barang milik orang lain, maka itu jelas salah !

" Daya serap anak bagaikan spon, disiram sebanyak mungkin masih diterima. Jadi, seberapa hebat kemampuan anda ? "

Jadi, dimana salahnya internet ? Situs porno ? Kencan online ? Atau penculikan karena kenal dari Facebook ? Tetapi adakah produk yang benar-benar tidak memiliki efek negatif ? Bahkan kebaikan yang membabi-buta pun sering disalahgunakan orang lain. Karena terlalu baik, maka dia tidak memahami ada banyak orang  jahat di sekitarnya.

Mengapa dia tidak memperbolehkan anak-anaknya belajar internet ? Mungkin dia mempunyai pengalaman negatif, atau menurut penilaiannya sendiri tidak baik.

Kita sendiri memiliki satu-dua hal yang kita anggap jelek. Dan menutup pintu terhadap segala masukan tentangnya. Inilah yang disebut sebagai idealisme.

Jadi idealisme itu jelek ya pak ? Tidak, justru idealisme adalah ciri khas kita, sesuatu yang membuat kita unik. Berbeda dengan yang lainnya. Orang yang tidak memiliki idealisme sama saja dengan orang yang tidak memiliki pendirian. Itu jelek !

Segala sesuatu tidak boleh berlebihan atau kekurangan. Takarannya harus pas. Idealisme yang membabi-buta akan menimbulkan konflik dengan orang lain. Manusia tidak suka dipaksa, sekalipun dia salah. Ego tidak perlu diajarkan, muncul begitu saja sebagaimana rasa malu, mau menang sendiri dan kerendahan hati. Namun emosi negatif dan sifat jelek cenderung lebih kuat daripada emosi positif dan kebaikan.

Mungkin saat ini kita bisa melarang mereka untuk tidak ber-internet ria, setidaknya selama berada di samping kita. Namun sampai kapan ? Anak akan bertambah besar dan ingin menunjukan kemandiriannya. Logikanya akan menajam dan menyerang idealisme kita. Jika kita tidak mampu memberikan jawaban yang bisa diterima, maka kepercayaannya kepada kita akan hilang. Dan terjadilah pemberontakan.

Jadi siapa yang salah ? Orangtua atau anaknya ? Bagi saya, jawabannya adalah orangtua karena mereka tidak mau terbuka terhadap perubahan dan tidak mau belajar secara berkesinambungan

Semakin besar anak, semakin berkurang kendali kita. Pada masa inilah hasil kerja kita terlihat, apakah mereka mampu bertahan hidup, menjadi sukses atau tergantung kepada kita ?

Jadi, apa yang bisa membuat anak tunduk kepada kita ? Secara umum adalah uang. Selama kita memilikinya, anak akan "nurut". Tetapi ini tidak sehat karena ketaatannya berpamrih. Begitu tidak ada uang, langsung berontak dan menghina. Sama halnya anda tunduk, beberapa menjilat, atasan anda.

Mengapa anda mengagumi orang lain ? Karena kepandaiannya ? Bisa juga, tetapi saya yakin, respek anda lebih dikarenakan kebijaksanaannya. Dia orang yang tulus, jujur, baik hati dan adil. Bukankah ini yang disebut sebagai karakter ? Kepandaian tanpa karakter hanya menjadi batu sandungan. Itulah yang dilihat oleh anak-anak dalam diri orangtuanya.

Saya yakin, beberapa dari anda memiliki teman yang nakalnya minta ampun. Padahal dia anak salah seorang pemuka agama. Anak ini melihat kemunafikan orangtuanya. Di panggung terlihat suci bercahaya, tetapi di rumah bagai serigala. Seharusnya semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hati. Namun kenyataannya terbalik, semakin sombong dirinya.

Mengapa ada orangtua yang seperti ini ? Banyak penyebabnya, salah satunya adalah tidak momong anak sendiri.

Secara matematis bisnis, merawat sendiri anak dari bayi hingga 5 tahun tidak ada untungnya dan juga tidak terlihat hasilnya. Justru yang terlihat adalah pengorbanan waktu, karier, teman dan uang. Usaha saya maju seperti kura-kura, teman saya hilang semua dan tabungan saya bertambah sedikit sekali. Kalo minus tidak pernah, karena Tuhan menyediakan segala keperluan saya tepat waktu.

Tetapi jika dilihat dari pertumbuhan karakter kita, luar biasa pesatnya. Menurut penilaian saya, tidak ada yang bisa mengembleng karakter sedahsyat merawat anak sendiri. Tidak kenal ampun, tidak ada waktu break dan juga tidak pernah selesai. Siapa diantara anda yang tidak pernah menangis kecapaian karena merawat anak ? Saya sendiri beberapa kali menangis gak kuat. Namun saya tidak bisa menyerah karena tidak ada yang nganti peran ini.

Istri bisa ditukar-tambah, tetapi anak tidak bisa. Jadi kita terus menerobos batas kemampuan kita, paling tidak 5 karakter ini :

  • Kesabaran
  • Stamina
  • Kreativitas
  • Ketekunan
  • Iman dan Pengharapan

Sebulan pertama, si bayi ini minta makan setiap 2 jam sekali jika minum ASI, 3 jam sekali jika minum susu kaleng. Tidak kenal pagi atau malam, pokoknya tiap 2-3 jam sekali. Belum termasuk pipis dan puppy. Tidak peduli betapa capainya anda dan juga tidak bisa dimarahi karena bisa tambah kenceng nangisnya. Nek wes ngondok, malah minta digendong terus. Gak amsiong tah ? Jadi yang bisa anda lakukan hanyalah mengelus dada dan mensugesti diri sendiri, sabar...sabar...nek emosi isa tambah parah.

Bulan berikutnya si bayek sudah bisa menyadari dirinya berada di tempat yang asing. Dulu di perut ibunya yang stabil. Sekarang di dunia yang panas. Dia merasa tidak nyaman sekaligus kangen dengan rumah lamanya. Hanya dengan digendong sajalah rasa kangennya terobati. Tubuh kita selalu mencari cara untuk tetap mempertahankan suhu 37 derajat, karena itulah bayi suka digendong. Kondisinya stabil. Ketika dilepas, terjadilah ketidakstabilan. Menangislah unyuk-unyui ini.....halaaaah ! Gendong lagi, gendong lagi...remek rek awak iki. Maka dimulailah training stamina kita.

Cara menidurkan bayi 2 tahunSemakin besar, semakin tahu dia mau di-bobo-kan. Rasa ingin tahunya melebihi rasa ngantuknya. Jadi dia melawan dengan cara apapun agar tidak bobok. Makanya rewel plus ngamukan. Cara nina bobo yang biasanya berhasil, sekarang tidak mempan. Kok bisa ? Karena bayi belajar dari kebiasaan. Begitu mengambil selendang dan menancapkan botol susu, dia "kroso" gak enak. Benar, bayi kecil ini sudah bisa menebak peristiwa selanjutnya. Ha...ha....ha....unyuk-unyuk.

Karena sama-sama pegel dan kerjaan kita juga banyak, maka kita harus memutar otak dalam kelelahan agar tuyul kecil ini bisa di-KO kan.

Tiap bulan caranya pasti berbeda. Cara menidurkan bulan lalu pasti gak bisa diterapkan untuk bulan ini. Saya sampe stress tiap bulan mesti mikir jurus baru...ha...ha...ha...Inilah gabungan antara traning stamina, kesabaran dan kreativitas.

Sekali training dimulai, maka tidak akan pernah selesai. Jangan berpikir training kesabaran yang dimulai bulan pertama akan berakhir dan digantikan dengan training berikutnya. Tidak, materi trainingnya ditambahkan. Jadi, tambah lama akan tambah berat. Namun jangan kuatir karena sudah terbiasa sehingga tidak terasa. Tau-tau kita sudah menjadi pribadi yang berbeda. Semakin indah di mata Tuhan dan manusia.

 

KESIMPULAN
Pernikahan jaman dulu bisa langgeng karena suami dan istri menjalankan perannya sesuai kodratnya. Suami sebagai pemberi nafkah dan kepala keluarga, sementara istri sebagai pengatur rumah tangga dan penolong suaminya. Keduanya dididik dan belajar secara alami sesuai perannya.

Sedangkan pernikahan jaman sekarang sering gagal karena peran suami istri dibolak-balik sendiri. Istri mencari kesenangannya sendiri, suami gak kerasan di rumah, anak-anaknya diasuh oleh suster dan pembantu.

Pengalaman hidup ini akan ditirukan oleh anak-anaknya, dilanjutkan oleh cucu-cucunya dan hancurlah dunia ini. Hanya ada satu cara untuk mencegah kehancuran ini menimpa keluarga kita, yaitu kembali ke kodrat dan blueprint Tuhan.

Bimbingan dari Tuhan untuk momong anak

Share this content

ARTIKEL TERBARU

SERI BERPACARAN

SERI RUMAH TANGGA

SERI PENDIDIKAN ANAK

SERBA-SERBI CINTA