Website Wapannuri

SETETES HARAPAN DI TENGAH PERNIKAHAN YANG BERMASALAH | 3-3 Seri Pernikahan

Kita, mau atau tidak mau tahu adalah hasil produksi kedua orangtua kita. Seperti yang mereka ajarkan ke kita, demikian pula kita ajarkan kepada anak-anak kita. Demikian pula dengan orangtua pasangan kita mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma kepadanya. Mereka mengajarkan apa yang dianggap baik dan benar. Dan apa yang betul bagi mereka tentu kita anggap benar. Kita bertengkar tentang apa yang benar dan betul, sangat jarang kita bertengkar tentang suatu hal yang jelas-jelas salah. Nah, masalahnya apa itu kebenaran ?

Konsultasi pernikahan gratis di internet

 

SEBAGAI ORANGTUA DAN SEBAGAI ANAK

...sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat.

Orangtua yang jahat cenderung menghasilkan anak yang jahat, bahkan lebih jahat dari orangtuanya. Tetapi, orangtua yang baik tidak selalu menghasilkan anak yang baik pula. Mengapa demikian ? Karena mengajarkan hal yang baik membutuhkan waktu bertahun-tahun, sementara mengajarkan hal buruk hanya butuh waktu satu hari saja.

Kita manusia cenderung menyukai hal-hal yang menantang, menyalahi aturan dan menarik perhatian. Perbuatan baik jarang mendapatkan pengakuan dari orang lain karena sudah sewajarnya harus bertindak seperti itu. Sedangkan perbuatan jahat seketika itu juga menarik perhatian orang lain. Cibiran, teguran, hukuman ataupun gumaman, entah itu positif atau negatif. Kita bangga dan sedikit senang karena merasa diperhatikan, berhasil menjadi “sesuatu” walaupun negatif.

Pelajaran dari kisah kain dan habilKetika Adam berhasil menamai binatang-binatang ciptaan Allah, Tuhan tidak bereaksi. Tetapi ketika Adam memakan buah terlarang, Allah muncul dan menegur mereka. Agaknya Adam berhasil menarik perhatian Tuhan. Tampaknya, kehausan untuk menjadi yang ter-ter-ter-ter ini sudah ada dari sononya.

Sama halnya dengan kebutuhan anak untuk diperhatikan orang tuanya. Mereka membutuhkan pengakuan selain pujian, membutuhkan waktu bukan uang. Membutuhkan orang tua bukan suster. Membutuhkan teladan bukan teguran. Dan jika mereka tidak mendapatkan dari mereka akan mencari dari orang lain. Tetapi kekosongan ini tidak bisa di-isi karena merupakan kebutuhan yang hanya bisa diisi oleh papa & mama.

Saya dibesarkan oleh orangtua tunggal. Kedua orangtua saya berpisah pada waktu lulus SD. Saya tinggal bersama mama. NIlai-nilai yang dipercayai mama menular ke dalam diri saya seperti senang memberi, menyimpan uang untuk ditabung, membersihkan rumah, kalo di rumah ada makanan harus dimakan, kalau tidak ada makanan baru boleh beli di luar. Kalo ada makanan lebih jangan dibuang, lebih baik diberikan kepada orang lain. Jadi orang harus berpikir bolak-balik, jangan melakukan sesuatu yang tidak kita sukai kepada orang lain. Kalau kamu diperlakukan seperti itu bagaimana ? Kalau ambil untung dengan teman jangan banyak-banyak, kalo orangnya baik ke kamu, jangan ambil untung. Pendeknya, mama mengajarkan kepada saya moralitas yang cukup tinggi.

Karena itu saya cukup terlambat memulai usaha sendiri. Mama tidak mengajarkan hal ini. Mata pelajaran yang seharusnya diajarkan oleh papa. Keberanian, manajemen resiko, mengenali peluang dan memanfaatkan kesempatan. Naluri bisnis saya tumpul. Bisa juga rasa rendah diri saya juga bersumber dari latarbelakang ini. Karena saya tidak pernah mendapatkan ucapan selamat atas keberhasilan saya. Karena saya tidak melakukan sesuatu yang beresiko. Satu hal yang selalu dihindari oleh mama saya.

Di satu sisi, saya termasuk orang yang beruntung karena berhasil melalui badai kehidupan ini. Bukankah banyak anak single parent yang hidupnya tidak karu-karuan ? Masih tetap bekerja ikut orang, masih tetap kekurangan walaupun bekerja mati-matian ? Pernikahannya pun berantakan mengikuti jejak orangtuanya ? Orangtua saya bercerai, mengapa saya tidak boleh ? Mereka tidak sanggup mempertahankan pernikahannya ? Masalah dan kutukan pun bertambah besar.

Pada titik inilah saya harus memilih meneruskan kutukan perceraian ini atau menjadi generasi pembalik keadaan. Anak dari orangtua yang bercerai cenderung mengikuti jejak mereka. Sebaliknya tidak ada jaminan bagi orangtua yang pernikahannya bertahan berdampak pada Keutuhan pernikahan anaknya.

Jika saya berhasil mempertahankan pernikahan saya, maka peluang keberhasilan pernikahan anak saya akan lebih tinggi, tetapi tidak ada jaminannya. Mengapa ? Karena pernikahan melibatkan dua belah pihak, dua keluarga. Kalau anak saya dari keluarga lengkap sementara pasangannya dari keluarga single parent, maka anak saya harus menanggung kutukan keluarga istrinya. Demikian pula sebaliknya.

Tetapi saya menemukan bahwa ada pernikahan yang dipaksakan karena satu dua alasan. Pernikahannya bermasalah dan tidak pernah diselesaikan demi anak atau demi gengsi. Hanya anak merekalah yang mengerti topeng kedua orangtuanya. Tampak romantis di luar, namun penuh kebencian di dalam rumah. Apakah model pernikahan seperti ini mempengaruhi anak mereka ? Jelas sekali, anak mereka akan menjadi egois dan munafik. Mencontoh kedua orangtuanya.

Jenis pernikahan seperti apakah yang akan saya tunjukkan kepada anak saya ? Perang terbuka atau perang dingin ? Tetap menikah tapi selingkuh atau terang-terangan bercerai ? Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini.

Saya juga tidak bisa menjelaskan alasan Tuhan menempatkan saya pada situasi ini. Saya tidak mengerti maksudNya ? Yang saya tahu apa yang dipersatukan Tuhan tidak bisa diceraikan manusia. Tetapi saya juga tahu bahwa ada manusia yang diciptakan untuk dibinasakan. Mengapa tidak boleh berpikir bahwa ada pernikahan yang harus kandas di tengah jalan ? Mengapa ada masalah dalam pernikahan yang tidak dapat diselesaikan ? Mungkin kata “belum” lebih tepat (adakah yang setuju ?)

" Semua kebaikan, semua masalah, dan derita yang menimpa kita.

Di-ijin-kan Tuhan ! "

Ketika saya harus menelusuri penyebabnya, saya menemukan bahwa akar permasalahannya pada orangtua dan lingkungan. Orangtua adalah faktor yang dapat dikendalikan sementara lingkungan adalah faktor yang tidak dapak kita kendalikan. Jika harus memilih dari dua penyebab itu, saya cenderung memilih pendidikan orangtua sebagai penyebab terbesarnya. Lingkungan memang tidak dapat kita kendalikan, namun orangtua bisa mengikuti dan menyesuaikan cara mendidiknya dengan lingkungan.

Salah satu contohnya adalah internet dan pornografi. Apa yang harus kita lakukan ? Menolak internet dalam rumah kita ? Tidak bisa ! Tugas sekolah anak membutuhkan internet untuk mencari data. Lagipula internet adalah perpustakan terbesar di dunia yang bisa dilihat kapansaja, dimana saja. Orang bisa menjadi pintar dengan membaca internet dan sekaligus bodoh karena internet. Keduanya memiliki peluang yang sama. Mengapa tidak membuka pemikiran kita bahwa ada banyak hal yang menarik dari internet ? Mengapa tidak mengarahkan anak kita kepada hal - hal positif itu ? Mengapa tidak mengajarkan pornografi kepada anak ? Mengapa kita tidak mau mengakui bahwa zaman telah berubah dan pendekatan kita pun harus dirubah ? Mengapa tidak mengambil sisi positif dari ajaran orangtua kita dan menyesuaikannya dengan zaman ini ?

Pada tiitk inilah saya sedikit mengetahui rencana besar Tuhan atas hidup saya. Mengapa saya diberi keahlian menulis ? Mengapa saya berjualan online di internet ? Dan mengapa saya harus mengalami masalah dalam pernikahan saya ? Mengapa saya Sebagai pria  harus mendidik anak saya ? Berperan sebagai suami, sebagai mama, sebagai suster, sebagai pengusaha dan sebagai pembantu rumah tangga ? Sebagai anak dan sebagai orangtua ?

Kelihatannya Tuhan menginginkan saya untuk menjadi sedikit terang di tengah kegelapan dan kerumitan dunia maya. Bukankah anda mecoba mencari jawaban atas permasalahan anda melalui internet ? Bukankah anda sedikit terkejut membaca pengalaman saya ? Bukankah mata anda terbuka ketika menemukan wapannuri.com ?

Selama dua tahun ini, saya berkutat dalam lumpur permasalahan dunia dan menderita dalam pernikahan yang bermasalah. Saya tidak membaca buku lagi, saya tidak menulis lagi, saya tidak menggenapi rencana Tuhan atas hidup saya. Saya bertanya mengapa Tuhan menempatkan saya pada situasi ini. Saya tidak berjalan maju mengenapi rencanaNya. Saya berjuang menyelesaikan masalah ini dan menyuruh Tuhan diam !

Segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi kitaBayangkan, saya menyuruh sang sutradara untuk menyingkir dan sang penulis untuk merubah naskahnya ! Lalu, siapa yang mengarahkan skenarionya ? Padahal Dia yang memegang naskah kehidupan saya. Bisa jadi, situasi sekarang ini memang salah satu adegan dari ratusan adegan yang harus saya lakukan agar menjadi suatu film yang menyentuh, membangkitkan semangat, meneteskan air mata dan berakhir bahagia. Bukankah suatu cerita yang menarik harus mengandung unsur pendahuluan, konflik, titik balik, rekonsiliasi dan penutupan ?

Masalahnya, kita semua tidak pernah mau percaya bahwa masalah yang kita hadapi sekarang ini adalah salah satu rencanaNya. Kita tidak mempercayai Tuhanlah yang menempatkan kita di situasi yang sulit ini. Sebaliknya kita percaya perkataan om pendeta yang mengatakan bahwa ikut Tuhan itu diberkati, kaya raya, penuh sukacita dan tanpa masalah. Jadi, saya berpikir….Tuhan itu salah, yang benar om pendeta.

Kan om pendeta juga mengatakan kalo kita bermasalah, itu akibat dosa kita. Heloooo ! Bukankah Tuhan mengatakan sebaliknya, “Sekalipun dosamu merah seperti kain kirmizi, Aku akan membuatnya putih seperti bulu domba. Tuhan tidak pernah mengingat-ingat kesalahan.” Jika Tuhan memang pendendam dan pencatata kesalahan, tidak mungkin Dia merelakan anakNya yang tunggal untuk turun ke dunia dan mati di kayu salib.

Aaaah….banyak sekali konsep yang harus saya rubah mengenai Allah.

 

BETUL DAN BENAR, KEBETULAN DAN KEBENARAN

Seorang teman abibil saya mengatakan sesuatu yang menarik mengenai suku kata ini, “ Betul dan Benar memiliki arti yang sama, tetapi kebetulan dan kebenaran tidak sama. Yang ada hanyalah kebetulan yang akan menjadi kebenaran. “ Mikir !

Ketika saya melihat segala sesuatunya dari sudut pandang Allah, semuanya menjadi lebih jelas dan menenangkan. Saya mengawalinya dengan mempercayai bahwa situasi saya saat ini, masalah yang saya hadapi termasuk rencanaNya. Bencana ini sudah diperhitungkan Tuhan. Dia membiarkan badai menerjang bahtera kehidupan saya. Suatu ujian dan juga sekaligus pujian.

" Tidak ada kebenaran yang menjadi kebetulan.
Yang ada adalah:

kebetulan yang akan menjadi kebenaran. "

Ya, betul ! Pasangan anda yang selingkuh dan ketahuan, pasangan yang melarikan diri, mertua yang tidak tahu diri, anak yang melawan anda, teman yang mengambil duit anda….semuanya ini di-ijinkan Tuhan. Berhentilah mencari kambing hitam ataupun kesalahan karena anda tidak akan menemukannya. Saya bertanya-tanya selama dua tahun dan membuang waktu sia-sia. Bukan salah saya dan sekalipun salah pasangan saya…. Semuanya sudah terlambat, masalahnya sudah muncul dan mengetahui siapa yang salah tidak menyelesaikan masalah. Sebaliknya malah menambah masalah, menimbulkan kebencian dan membakar amarah.

Tuhan meng-ijin-kan ! Sama seperti Dia mengijinkan Ayub dicobai iblis. Looo….mengapa Tuhan mengijinkan setan mencobai kita ? No...no...no...Tuhan tidak mempersilahkan setan menyentuh anda, Dia berkata, “Tidakkah kamu tahu si Ayub ? Dia orang luar biasa ! Bukan manusia biasa ! Dia saleh, jujur, takut Tuhan dan menjauhi kejahatan. “ Tuhan memuji Ayub di hadapan setan, bukan menyuruhnya untuk mencobai Ayub. Dia percaya dengan Ayub, Dia tahu kekuatan Ayub, kesetiaannya dan kebesaran imannya.

“ Oh ya ? Bener tah ? Bukannya kesetiaan Ayub itu karena Tuhan yang memberkati. Semua orang kalo You berkati ya pasti seperti Ayub. Udah aaaah….jangan ngomong yang gak penting ! Gitu ae dibangga-banggain. “ sahut setan.

“ Betul juga yeee….nek gitu aturen wes. Mau kamu apain terserah, pokoknya jangan ambil nyawa Ayub. “ kata Tuhan.

Siapa tahu, hidup anda saat ini juga dipertaruhkan di dunia kosmis. Eh...elu tau gak si Wanapuri itu ? Sing ganteng dan lucu itu loooo...matanya sipit dan rambutnya rada krebo. Tuh orang sip soro ! Anti galau, tahan karat dan water proof.

Mengapa Tuhan membanggakan saya ? Karena saya istimewa di hadapanNya. Karena Dia mau menaruh nama saya di papan skor. Sama seperti anda yang mengalami masalah yang berat, tak kunjung selesai dan tidak tahu dari mana asalnya. Tuhan membanggakan anda di hadapan malaikat dan iblis. Dia tahu kemampuan anda. Dia tidak akan memberi ujian ataupun cobaan yang melebihi kekuatan. Seperti Tuhan membatasi kuasa setan pada nyawa Ayub, demikian pula Dia akan membatasi ujian anda. Dan jangan kaget….Tuhan tuh paling senang dengan “tepat pada waktunya.” Dia menolong pada injury time ! Kurang sak sreeeet….demikian kata orang Surabaya.

Tapi…Pak Wapan….saya sudah berjuang selama 7 tahun. Sudah lama saya menunggunya, bukannya bertambah baik...sekarang tambah parah masalahnya. Saya sudah capai berusaha. Saya sudah tidak tahu lagi yang harus dilakukan. Kalau mau cerai ya cerai wes ! Pintu sudah tertutup. Memang nasibku seperti ini. Tidak ada harapan lagi.

Iya...sama ! Aku juga wes putus asa. Aku loh gak tau cara menyelesaikan masalahku sendiri. Yang aku tahu, hasil akhirnya bisa tak tebak. Kemungkinan besar ya cerai. Tinggal menunggu waktu saja. Saya pun tanpa harapan, seperti anda.

Karena itu saya terpaksa dan memaksa untuk percaya bahwa permasalahan inipun atas kehendak Tuhan. Saya sudah memutuskan, tetapi Tuhan yang menentukan. Saya sudah mengetahui hasil akhirnya, tetapi saya tahu keadaan bisa berbalik 180 derajat. Tuhan hanya memerlukan satu kesempatan, satu sentuhan pada saat yang tepat untuk memulihkan hidup saya. Tugas saya hanya percaya, berdiam dan mengijinkan Dia memimpin.

Segala sesuatu akan menjadi jelas sesuai iman dan waktu TuhanDan sekonyong-konyong, segala sesuatunya menjadi lebih jelas. Kelihatannya kebetulan, tetapi orang-orang yang saya temui selama ini menggoreskan sesuatu dalam hidup saya. Mereka membekali saya, pengalaman mereka menguatkan saya dan tidak jarang membuka mata saya. Apa yang sebelumnya tidak saya lihat menjadi terlihat. Semuanya berhubungan dan semuanya memiliki tujuan. Tidak ada yang kebetulan karena pada akhirnya hanya ada kebetulan yang menjadi kebenaran. Seperti betul-betul benar dan benar-benar betul.

Saya bertemu seseorang yang mengajarkan cara berbisnis yang efektif dan efisien. Dari orang inilah saya akhirnya bisa sedikit mengalami yang namanya kebebasan finansial. Saya tidak perlu berkerja untuk mencari uang. Uanglah yang mendatangi saya. Saya belajar memiliki midas touch.

Segala sesuatu yang saya sentuh menjadi emas….keren ! Tapi saya masih belum benar-benar sugih. Saat ini saya benar-benar pas. Pas butuh uang, dikirimi Tuhan melalui toko online saya. Dan yang luar biasa, sepertinya karena berkat Tuhan, kebebasan finansial ini saya capai dalam waktu 3 tahun saja, mulai dari nol, modal 2 juta, ditambahi jadi suster di rumah. Keliatannya saya ini banyak nge-poor. Masih belum lek-lek-an. Powernya baru 40%...belum sempat di lepas tali kekangnya. Ha...ha...ha….

Saya bertemu dengan suami yang pengorbanannya jauh lebih besar daripada saya, namun diceraikan istrinya.  Saya juga bertemu dengan seorang ibu rumah tangga dengan tiga orang anak yang ditinggal mati suaminya. Saya bertemu dengan pasangan muda yang sekarang ini tinggal di rumah masing-masing karena alasan yang tidak masuk akal. Dari mereka saya bersyukur...untung masalahku gak seperti masalahmu ! Masalahku lebih ringan daripada masalahmu. Aku bersyukur karena penderitaanmu…..^-^’

Hal yang terlintas kemudian adalah cerita om Abraham yang diperintahkan Tuhan untuk mengorbankan Ishak. Yup...Tuhan menyuruh Abraham membunuh Ishak yang merupakan anak kandungnya sendiri. Sepertinya Abraham harus memilih antara keluarga dan Tuhan. Elu sayang keluargamu atau sayang Aku ? Kamu mau ikut rencanaKu atau bikin rencana sendiri ?

Iya...saya sebagai orangtua sudah merencanakan masa depan anak saya sendiri. Anak tanggungjawab saya, benar tetapi tidak lengkap. Yang lebih lengkap adalah Anak adalah tanggungjawab Tuhan dan saya. Saya diberi kepercayaan untuk membimbing, tanggungjawab terbesar di tangan Tuhan. Dia sudah membuat rencana untuk anak saya. Saya harus menyerahkan masa depan anak saya ke dalam tanganNya. Apapun yang akan terjadi, sudah diaturNya, yang terbaik untuk saya dan anak saya.

Betul sekali, saya bergerak menurut rencana saya, bukan rencana Tuhan. Saya memang berdoa untuk pekerjaan saya, keluarga saya. Tetapi saya “memaksakan” rencana saya. Saya mencari peluang bisnis, saya menjaga dan mengajari anak saya, saya mengurusi rumah tangga saya. Tetapi saya menjalankan rencana saya. Kelebihan dan tugas yang Tuhan berikan kepada saya secara pribadi tidak saya kerjakan.

Pada akhirnya kita akan mengerti tujuan Tuhan atas hidup kitaMengapa saya memaksakan untuk membaca, mengapa saya memaksakan untuk menulis di wapannuri.com dan mengapa saya membuat website ? Itu bukan kebetulan, itu panggilan saya. Terkadang saya mendengar suara mistis yang mengatakan bahwa internet adalah ladang pelayanan saya. Hampir sama dengan yang dikatakan suk suk gua-mia pada tahun 2001 lalu. “ Rejekimu itu jualan tahu Nyo.”

“Hah ! Masa sih suk ? Gak ada yang lainnya tah ? Mosok ganteng-ganteng jualan tahu ?” Sahut saya

“Hmm….iya, rejekimu juga di kertas. “ jawabnya.

16 tahun lalu, internet masih merupakan barang mewah. Tidak seperti sekarang ini, dengan sebuah posel 200 ribuan, orang sudah bisa internetan. Hanya dengan 30 ribu bisa internetan sepuasnya. Tidak seperti jaman dulu yang harganya Rp 25 per/KB. Internet adalah kertas elektronik, bukan kertas konvesional yang saya pegang.

Toh, tulisannya hitam diatas layar putih. Lagipula, membaca di internet lebih murah dan menyenangkan karena ada gambar berwarna. Lain dengan buku yang isinya text semua.

Karena masalah keluarga, tepatnya pernikahan yang tidak harmonis ini, saya melalaikan panggilan Tuhan untuk saya pribadi. Bukan panggilan sebagai suami, kepala keluarga ataupun pengusaha. PanggilanNya untuk diri saya, tugas yang harus saya kerjakan, yang hanya bisa dikerjakan oleh saya. Apa itu ? Menjadi surat terbuka di internet. Menceritakan pengalaman saya, membagikan pemikiran saya dan menuliskan pesan Tuhan untuk saya dan orang lain yang digerakkanNya ke wapannuri.com

Apa yang harus saya tulis jika saya tidak ditimpa masalah ? Jelas tidak ada. Mengapa saya mengalami masalah ini ? Supaya saya dapat mencari jawabannya dan membagikan Temuan saya kepada anda. Mengapa saya menulis ? Karena melalui tulisan saya mendapatkan kelegaan dan ketenangan. Mengapa saya harus membaca ? Karena saya mencari jawaban permasalahan saya. Mengapa semuanya ini saling berhubungan ? Karena ini rencana Tuhan, dan rencanaNya pasti dilaksanakan. Mengapa kok saya ? Karena saya nurut. Loh...kan aku sering melarikan diri dari Tuhan, kok bisa dibilang penurut ? Karena kamu mau dihajar dan dijewer telinganya terus nurut. Yeee...gak enak ngono rek !

Betul, mengikuti rencana Tuhan itu tidak enak. Yesus ae mati di kayu salib karena mengikuti rencana agung Tuhan. Petrus disalib terbaik, Paulus dipukuli, dilempari batu, dipenjara dan akhirnya mati sebagai penjahat negara. Yohanes, murid yang dikasihiNya, harus mati sendirian di pembuangan. Terus...apa yang anda harapakan dengan mengikuti rencana Tuhan ? Muda kaya raya, tua hura-hura dan mati masuk surga ? Gini lo Om...Tuhan lebih tertarik untuk membentuk anda daripada menyenangkan diri anda.

Seperti halnya ada orang yang diciptakan untuk dibinasakan. Demikian pula ada orang yang diciptakan untuk menderita, ada orang yang diciptakan untuk menjadi bendahara surga dan juga ada orang yang diciptakan untuk menjadi biasa-biasa saja. Semua orang memiliki panggilannya masing-masing. Tidak semua orang diciptakan sama. Karena itu definisi kebahagiaan masing-masing orang pun tidak sama.

Doa Mengubah Segala Sesuatu - Regina Pangkerego

Ada yang bahagia karena sederhana, ada yang bahagia karena kaya raya dan ada juga yang bahagia karena menderita. Coba jelaskan kepada saya, kebahagiaan Bunda Theresia ! Apakah dia merasa tertekan, stress dan tidak bahagia ? Sebaliknya, dia adalah orang paling berbahagia di dunia, puas dengan hidupnya dan meninggal dengan ketenangan yang luar biasa. Bagaimana bisa seperti ini ? Karena kebahagiaan juga anugerah Tuhan. Menikmati kehidupan adalah berkat Tuhan.

Apakah saya menikmati membaca, menulis dan hidup pas-pasan ? Apakah anda menikmati kekayaan anda ? Susah untuk menjawab pertanyaan ini. Tetapi yang saya tahu, saya mendapatkan kepuasan karena membaca dan menulis. Saya tidak menikmati hidup pas-pasan. Tetapi saya tahu, apapun yang saya butuhkan dalam hidup ini akan dipenuhi Tuhan. Saya tidak pernah kuatir dengan masa depan saya. Sekalipun tagihan kartu kredit jatuh tempo hari ini, sekalipun harus beli susu dan popok, sekalipun harus bayar tagihan listrik, air, telepon, PBB. Tidak pernah sekalipun saya bingung. Tuhan akan memenuhi segala keperluanku, tepat pada waktuNya.

Jadi apakah saya menikmati atau tidak menikmati hidup saya ? 70 - 30. Kenikmatan saya lebih besar daripada ketidak-nikmatannya. Jika harus memilih salah satunya, maka saya memilih menikmati hidup saya. Lalu, apakah anda bisa meniru hidup saya ? Bisa, tetapi anda tidak akan bahagia.

Karena Tuhan memberikan masing-masing orang secara berbeda. Kenikmatan anda bukan kenikmatan saya. Penderitaan anda bukan penderitaan saya. Apa yang anda anggap nikmat, saya anggap biasa saja. Apa yang anda anggap derita, saya anggap kenikmatan. Tuhan memberikan, entah itu bahagia atau masalah, sesuai dengan kemampuan masing-masing orang.

Anda menderita, anda tidak sanggup menanggungnya ? Tidak mungkin ! Karena Tuhan itu setia, omongannya dapat dipegang dan tidak pernah berbohong. Dia tidak akan mencobai kita melebihi batas kemampuan kita. Tuhan senang mepet-mepet. Dia akan berhenti pas di garisnya, pas di titiknya. Bukan kurang 0,000000000001mm. Terus kalo ternyata batas anda mundur ke belakang...langsung di sikat lagi. Sekalipun anda ampun-ampun...sekalipun anda berjalan merangkak sambil menaburkan air mata, jika Dia melihat batas kemampuan anda bisa direnggangkan lagi...hajar terus ! Walaupun anda pingsan, selama belum tergeletak, pasti tetap di proses.

Jangan salah, Tuhan tidak pernah menahan berkat-berkatNya. Dia hanya mau memberikan “berkat istimewa” pada orang yang dapat dipercayaNya. Semua orang pasti dilindungi dan dipelihara Tuhan. Tetapi hanya orang terdekatNya yang akan diberikan bonus dan diperlakukan istimewa. Orang yang dipercayaNya, orang yang mau maju bersamaNya, orang yang mau melewati batas kekuatannya, orang yang mau belajar dariNya. Persis seperti saya kepada anak saya. Ketika sudah tiba waktunya, ATM, Kartu kredit dan semua harta benda pasti akan saya wariskan kepadanya.

 

KESIMPULAN
Sebenaranya, langkah pertama untuk dapat melihat dari sudut pandang Tuhan adalah menerima segala yang terjadi adalah rencanaNya. Ditipu teman, diceraikan dan semuanya yang berawalan “di”. Bukan yang berawalan “me” seperti menceraikan, menipu teman atau me-nyelingkuhi. Saya pun sulit menerima hal ini. Tetapi itulah misteri kehidupan. Seperti yang pernah saya baca, “seperti tingginya langit dan bumi...seperti itulah perbedaan rencana Tuhan dengan rencana manusia.”

Apakah pernikahaan atau penderitaan ini “worthed” untuk saya jalani ? Maaf, saya tidak bisa menjawabnya. Sampai saat inipun saya masih belum bisa memutuskan. Apa yang menguatkan saya ? Pertama...rencana Tuhan. Kedua, Dia akan memberi kekuatan kepada saya. Ketiga, masuk surga itu tidak gandengan tangan, tetapi sendiri-sendiri. Tidak ada suami istri.

Doa Mengubah Segala Sesuatu
Terkadang ada hal yang tidak bisa diselesaikan. Kita harus menunggu. Berdoa adalah pilihan terbaik untuk masalah ini.

Share this content

ARTIKEL TERBARU

SERI BERPACARAN

SERI RUMAH TANGGA

SERI PENDIDIKAN ANAK

SERBA-SERBI CINTA